Maaa..
Bawa aku bersamamu ma..
Aku bosan hidup seperti ini terus.
Aku bosan meneteskan air mata terus ma.
Aku bosan harus menjaga perasaan orang terus tapi tak ada yang menjaga perasaanku.
Aku lelah ma..
Aku lelah dengan semua beban hidup yang kuganggung sendiri.
Aku lelah sendirian di dunia ini.
Sejak mama meninggalkanku tak ada yang sayang tulus samaku.
Tak ada yang pedulikanku.
Tak ada yang mengerti aku ma..
Aku lelah Tuhan..
Lelah dengan semua takdir yang Kau gariskan untukku.
Jika boleh aku memohon Tuhan.
Bawa aku kepangkuanMu saja Tuhan.
Biar semua lelah dan sedih ini terhapus.
Biar aku tak merasa sendiri lagi.
Bawa aku bersamamu ma..
Peluk aku ma..
Aku butuh sandaran..
Aku butuh teman ma..
Aku sendiri di tengah keramaian ini.
Aku sesak ma..
Sesak dengan semua topeng yang kupakai.
Topeng keceriaan yang menutupi sedih dan hancurnya hatiku.
Aku tak mau lagi ma..
Hati dan pikiranku seolah sedang berdetak seperti bom waktu.
Jika sudah waktunya, aku takut jalan nekad akan kutempuh.
Karena lelahku hampir memuncak ma..
Jika sudah waktunya, aku ingin akhiri semua takdir ini ma.
Tunggu aku ma.
Tunggu aku di gerbang keabadian.
masih bingung mau nulis apa di blog ini... untuk sementara aku nulis tugas-tugas aku dulu z ya.. nti klo udh punya ide aku tulis di sini,, :)
Minggu, 16 Juli 2017
Bawa aku bersamaMu Tuhan
Rabu, 05 Juli 2017
Aku letih
Ya Tuhaaann..
Aku merasa sendiri menghadapi ini semua..
Seolah tak ada yang mengerti aku.
Aku capek Tuhaann..
Aku lelah..
Aku berharap ada yg bisa membantuku.
Mengapa selalu aku yang mengalami seperti ini?
Mengapa si inke selalu mendapatkan yang terbaik?
Kalau si inke aja bapak sama mamak selalu membdri yang terbaik.
Sekarang, bapak dan mamakku seolah tak mempedulikanku.
Tak ada yang mempedulikanku.
Bahkan suamiku pun tak mempedulikanku.
Seoalah2 ini tanggung jawabku.
30 hari masa cutiku hanya akan kuhabiskan mengurus anakku sendiri.
Bagaimana ASIku bisa keluar banyak kalau pikiran, hati dan perasaanku tak menentu?
Bagaimana ASIku bisa keluar kalau tak ada yang mendukungku?
Mengapa harus selalu aku yang mengalami ini semua Tuhan.
Aku lelah..
Aku capek..
Badanku seolah remuk.
Padahal dia tau aku paling ga bisa begadang.
Padahal dia tau aku orangnya bosanan kalau makan yang itu itu aja.
Sudah sering kali kuingatkan dia sebelum anaknya lahir untuk mencari pembantu, tapi selalu aja jawabannya "nanti", "nanti" dan "nanti".
Aku bosan mendengar jawaban itu.
Padahal dulu dia yang bilang kalau dimintai tolong itu lgs dikerjakan.
Aku lelah Tuhan..
Aku capeek dengan ini semua..
Tak ada seorang pun yang mempedulikanku..
Mama..
Andai mama masih ada, apakah mama akan mendukungku?
Mgknkah pagi itu mama yang mengusuk badanku? Apakah mama rasakan letihku ma? Makanya mama mengusukku?
Ma.. Aku capek hidup dengan kesedihan terus. Bolehkah aku ikut denganmu ma? Agar tak kurasakan lagi sedih ini?
Jika memang hidupku hanya bekisar kesedihan lbh baik kuakhiri saja ma. Karena aku letih tak pernah merasakan bahagia.
Sampai kapan aku akan merasakan ini ma?
Bahkan sampai hari ulang tahunmu saja terlupakan olehku hanya karena pikiran dan hatiku yang tak menentu.
Terlalu berat beban yang Kau berikan padaku Tuhan. Terlalu berat semuanya kupikul sendiri.
Tolong aku Tuhan..
Kamis, 29 Juni 2017
Terberat
Kupikir dia mencintaiku begitu besar. Nyatanya semua hanya sekadar cinta belaka yang pupus setelah dia memilikiku.
Baru terlihat ketika kami akan menyambut kelahiran buah hatiku (kusebut kukrn mgkn dia tak peduli pada anaknya).
Sebesar apa kasihnya aku tak tau. Yang kutau saat aku berjuang melahirkannya ke dunia, dia masih sempat meninggalkanku di rumah sakit. Padahal aku ungin sekali seperti tmn2ku yang suaminya dengan setia menunggui mereka melahirkan tanpa meninggalkan istrinya sedetik pun.
Kupikir dia akan mengalahkan rasa takutnya, demi menemaniku berjuang menghadapi persalinan, spt yang selalu dibicarakan teman2ku ttg suamui mereka.
Tidak, semua anganku telah pupus.
Aku seolah berjuang seorang diri menahan rasa sakit.
Dan perjuanganku menahan rasa sakit tak cukup sampai di situ.
Aku harus berjuang menahan sakit bekas operasiku yang msh belum kering dan mengurus anakku seorang diri.
Dia seolah tak peduli padaku dan anakku. Tak sekali pun dia
Yang bertanya bagaimana keadaanku? Bagaimana perasaanku? Yang dia pedulikan hanya mencari segenggam uang. Kami tak butuh uangnya. Setelah dia mencari uang dia akan mengeluh padaku. Apa hanya dia yang oleh mengeluh? Apakah aku harus menyimpan semua keluhanku?
Oh Tuhaaann.. Sanggupkah aku melalui ini semua? Baru bbrp hari berjalan sejak Kau titipkan hadiah terindahMu utkku. Tapi mampukah aku membesarkannya hanya seorang diri tanpa campur tangan papanya?
Yang aku butuhkan dia peduli, perhatian pada kami.
Apa dia tau rasa sakit yang kurasakan? Apa dia mengalami ini semua? Sampai bekas operasiku berdarah lagi pun dia tak peduli. Apakah dia berpikir aku ini robot yang mampu melakukan semuanya seorang diri?
Belum cukupkah 9 bln kurasakan kehamilan yang harus kubiasakan tanpa dia dan harus kujalankan kemandirian yang dikatakannya?
Yang kuharapkan hanyalah perhatiannya, inisiatifnya membantuku.
Tangis anaknya saja tak dapat membangunkannya. Wajah letihku tak dihiraukannya, bahkan diejeknya krn aku tak sempat berdandan untuknya. Oh Tuhan, mamukah aku melewati ini semua? Setelah semua yang telah kukorbankan untuknya? Bahkan janjinya untuk mandiri dan meninggalkan kota yang sangat kubenci ini pun belum tentu diingatnya. Padahal dulu sewaktu dia mengejarku, setiap dia ingat, bahkan hal sekecil apapun diingatnya. Sudah habiskah rasanya dulu padaku sekarang Bapa? Apakah aku tak seberharga dulu? Ataukah aku hanya obsesinya belaka yang setelah disptkannya tak begitu penting lg?
Di tengah sakitku dan capekku dia seolah tak peduli. Mgkn klo saatvitu aku berakhir di meja operasi pun dia tak akan peduli. Mengapa aku tak pernah merasakan bahagia Tuhan? Memang tak layakkah aku emperoleh bahagia utuh?
Apakah sejak dulu sudah Kau takdirkan hidupku hanya seputar kesedihan dan kesendirian?
Apakah aku yang salah melangkah? Karena bahkan dia membawaku menjauh dariMu. Dia tak pernah membawaku ke rumahMu dengan segala macam alasan? Mampukah dia menjadi kepala keluarga yg seperti kuharapkan?
Oh Tuhan, jika ini memang takdirku, aku pasrah dengan semua kesedihan yang akan kuterima ini.
Sabtu, 15 Oktober 2016
Senin, 06 Juni 2016
Rabu, 03 Februari 2016
Sabtu, 05 Desember 2015
Senin, 30 November 2015
Jumat, 30 Oktober 2015
Sabtu, 24 Oktober 2015
Minggu, 09 Agustus 2015
Hanya padaMu saja..
DenganMu aku mampu menceritakan segalanya.
PadaMu kuluapkan semua kesedihanku..
Berharap pada manusia membuatku kecewa, sedih, dan kesal.
Hanya padaMu kumampu meluapkan semuanya.
Meski ku tak mampu memlukmu, kumampu panjatkan doaku.
Sejak kecil selalu dirimu yg setia menampung semua uneg2ku..
Hanya padamu kelepaskan semua persoalanku Bapa.
Semua tangis, semua jeritan hati ini..
Hanya padaMu saja BAPA..
mampukan aku hadapi ini semua Tuhan.
Beri aku kesabaran ekstra.
Beri aku kekuatan ekstra.
Ini pilihanku dan aku akan bertanggung jawab atas pilihanku.
Aku jg tau, Kau takkan meninggalkanku.
Sabtu, 01 Agustus 2015
Menumpahkan semua peluhku..
Menumpah sluruh beban berat ini..
Berteriak ku berteriak, akankah semua berakhir?
Pada siapa ku mengadu?
Letih retina ini bekerja meneteskan air yang terus mengucur.
Bagai bom atom yang ingin meledak jiwa ini ingin berteriak.
Adakah bahagia itu?
Akankah bahagia itu permanen?
Atau hanya sejenak lalu beranjak?
Tuhaann..
Dalam hening kumengadu..
Kamis, 23 Juli 2015
Kangen ngekos, punya privacy sendiri
Ga harus diatur ini itu..
Ga harus ngerjain apa2 klo lg males.
Ga dicerewetin macem2 klo plg malam.
Ga harus bangun pagi klo libur.
Kangen jalan2 tanpa harus takut mw plg jam berapa krn nanti dimarahi.
Kangen keheningan di kamarku sendiri.
Tahankan aku Tuhan untuk menikmati hari ini.
Bantu aku utk kembali beradaptasi Tuhan.
Mungkin ini berat, tp akan kuhadapi ini meskipun sulit.
Bosan aku dengan kericuhan di sini.
Bosan aku dengan kepenatan ini.
Aku ingin tenang dan hening.
Hanya dalam hening kunikmati hariku.
Jumat, 22 Mei 2015
saat hati ini sedih, kesal, marah
dia buatku kembali tersenyum
saat dia menggenggam tanganku
hati ini nyaman dan tentram
saat kudengar detak jantungnya dalam pelukku
kedamaian menyelimutiku
dia adalah mimpiku yang menjadi nyata
memilikinya bagai mimpi
dia menjaga, melindungi, dan menyayangiku
dia selalu memberi kebahagiaan bagiku
kupejamkan mata mencoba menyadarkan diri
mimpikah ini?
saat kubuka mata kutau ini bukan mimpi
karena dia berdiridi sampungku sambil tersenyum menggenggam tanganku
terima kasih Tuhan buat anugrrah terindah dalam hidupku..
Senin, 30 Maret 2015
Beribu terima kasih kusampaikan padaMu Bapa atas semua berkat dan kebaikanMu yang tak henti-hentinya Kau berikan padaku.
Ketika doa-doaku mulai terjawab kulihat betapa sangat muliaNya Kau.
Maaf jika selama ini kumeragukanMu ketika doa-doa itu belum terjawab.
Kini kutau, Kau menjawab semua doa-doaku tepat pada waktunya.
Kurasakan kebaikanMu dalam hidupku tak henti-hentinya.
Ketika kini kurasakan berlimpah-limpah berkatMu datang padaku kini.
Takkan berhenti lidahku mengucap syukur padaMu, Tuhanku.
Terima kasih Yesus
Terima kasih Tuhanku.
:)
Minggu, 15 Februari 2015
dia meluluhkan hatiku
Perhatiaan dan kesabarannya membuktikan ketulusannya.
Dia menerimakan tanpa syarat.
Dia menjadikanku bak seorang putri.
Disayang, dimanja dan diperhatikan.
Selalu menyenangkan hati, selalu mengikuti kemauanku..
Tak pernah marah meski telah membuatnya menunggu tanpa kepastian.
Dia selalu membuatkh tertawa.
Di dekatnya aku merasa nyaman.
Di dekatnya aku bisa menjadi diriku sendiri.
Karenanya aku menemukan sisi lain diriku yang tersembunyi karena keadaan.
Dia datang membawa cahaya untukku.
Menyinari hariku dengan perhatiannya.
Dia meluluhkan hatiku dengan cintanya yang tulus.