masih bingung mau nulis apa di blog ini...
untuk sementara aku nulis tugas-tugas aku dulu z ya..
nti klo udh punya ide aku tulis di sini,,
:)
Rabu, 12 September 2012
menjadi guru tuh ga mudah!
mengajar itu hal yang sangat sulit...
terkadang orang menganggap sepele kepada guru dan selalu mencela guru..
dari pengalamanku selama PPL ini aku mulai mengubah persepsiku selama ini tentang guru-guruku yang dulu...
hal-hal yang harus dilakukan oleh guru tiap harinya sebelum mengajar adalah:
1. guru harus membuat RPP minimal tiga hari sebelum mengajar
2. guru harus mencari bahan-bahan pembelajaran untuk menambah wawasannya supaya saat siswa bertanya mengenai hal-hal yang sedang terjadi guru dapat menjawab pertanyaan terebut.
3. guru harus mencari games-games pembelajaran agar siswa tidak bosan saat pelajaran nanti.
4. guru harus menyiapkan mental yang kuat untuk tidak menampakan ekspresi kesal, marah dan bete kepada siswa ketika siswa membuat ulah yang tidak disukainya.
5. guru harus menyiapkan busana yang akan dikenakannya supaya kelihatan rapi agar ketika guru meminta siswa untuk merapikan pakaiannya siswa dapat melihat contoh dari pribadi guru tersebut.
Selain itu, seorang guru harus dapat disenangi siswa dengan cara:
1. Jangan menjaga jarak dengan siswa agar siswa dapat melihat bahwa kita sebagai guru juga dapat menjadi teman mereka.
2. Jadilah guru yang pintar baik dalam membangun hubungan ataupun menjelaskan pembelajaran.
3. Buatlah games-games dalam pembelajaran karena anak-anak memerlukan penyegaran dalam belajar.
4. Jangan berteriak untuk menenangkan siswa yang ribut, tapi diamlah sejenak maka siswa akan mulai tenang.
5. Jadilah guru yang disenangi,disegani dan dihormati. Kita boleh menempatkan diri sebagai teman siswa namun buatlah batasan sehingga mereka tidak menganggap remeh kita.
So siapa yang bilang menjadi guru itu mudah dan merupakan pekerjaan biasa saja?? So hormati dan hargailah guru kita guysss.. ^_^
Musik menambah Uang Jajan Mahasiswa Pendidikan Seni Musik
Dunia musik sudah tidak asing lagi bagi dara cantik keturunan Jawa ini, Agustika Harini. Agus, begitu biasa teman-temannya memanggil, memilih jurusan Pendidikan Seni Musik karena kecintaannya pada musik sejak kecil. Gadis yang besar di lingkungan musik ini berpendapat “musik memiliki prospek yang menjanjikan” untuk pekerjaannya ke depan kelak.
Agus yang memiliki kemampuan musik yang diturunkan dari kedua orangtuanya yang berprofesi sebagai dosen Seni Musik ini bertutur Jurusan Pendidikan Seni Musik memiliki kelebihannya sendiri “Jurusan ini sangat menyenangkan, membentuk kepribadian, memiliki keahlian khusus, dapat membantu kita mencari penghasilan walaupun belum lulus dan memiliki pengalaman kuliah yang sangat berbeda dari jurusan lainnya”.
Gadis kelahiran Jakarta, 9 Agustus 1990 ini sudah bekerja part-time sejak semester 5. Saat ditanyakan pengalaman apa saja yang sudah ia dapat anak pertama dari tiga bersaudara ini menjawab “Ikut serta beberapa band, menjadi anggota orkestra bumi siliwangi sebagai pemain biola, tim paduan suara kampus dan pernah menjadi pengisi acara konfrensi internasional (Jogja) WISDOM 2011 sebagai tim angklung”.
Mahasiswi semester 8 Jurusan Pendidikan Seni Musik Universitas Pendidikan Indonesia, baru-baru ini mengikuti “Konser Vokal Purwacaraka Music Studio feat. Orkestra Bumi Siliwangi (OsBS)”. Agus mengisi acara sebagai pemain biola yang menampilkan 15 lagu diantaranya: edelweis, karna ku sanggup, to where u are. Ketika ditanyakan bagaimana perasaannya dapat tampil dalam konser purwacara ia menjawab “Biasa saja, mungkin karena konser kemarin sudah yang kesekian kalinya saya ikuti”.
Gadis yang terkenal ramah dan periang ini memiliki prinsip musik bukan untuk ditandingkan, tapi untuk kebersamaan. Oleh karena itu, ia belum berminat *Foto bersama paduan suara SMP 14 untuk mengikuti kontes musik apapun. Dara yang menguasai 5 jenis alat musik (piano, biola, suling sunda, gamelan, dan angklung) ini bercita-cita “ingin musisi professional dan inspiratif”.
Pengalaman kerja:
- pengajar paduan suara Universitas Sangga Buana
- pengajar paduan suara di SMP 14 (januari-Juni)
- pengisi acara berbagai event atau wedding
- pengisi acara rutin universitas
- mengajar privat
Fitri Meylina Tobing (0806367)
Malam begitu larut tapi aku tak jua memejamkan mata. Begitu banyak masalah yang membuatku tak dapat memejamkan mata ini. Perasaan sedih meliputiku. Kutatap kosong meja yang ada di depan ranjangku, tiba-tiba aku melihat sebuah kotak yang sudah lama tak kubuka. Kuberanjak dari ranjangku mengambil kotak itu lalu kubuka kotak itu dan kukeluarkan satu per satu isinya. Sejenak aku berhenti ketika menemukan sebuah album foto berwarna biru. Kubuka album itu dan kuterpaku melihat isinya. Sudah lama aku tak melihat album ini, album yang berisi kenangan masa remajaku. Kupandangi foto itu satu per satu, teringat semua masa-masa indah yang dulu kulalui. Masa yang tak akan pernah kulupakan. Masa dimana aku bertumbuh menjadi lebih baik. Masa yang kulalui bersama sahabat-sahabatku.
Sejenak kuterdiam, ketika melihat sebuah foto dan tiba-tiba setetes air mata jatuh membasahi foto itu, kuhapus air mataku dari foto itu, kupejamkan mataku berusaha melupakannya sejenak, lalu membuka kembali album itu. Senyum, tawa menyertaiku saat melihat-lihat isi album itu. Kemudian sampailah aku pada halaman terakhir dari album itu, kulihat sebuah foto seorang gadis berambut pendek sedang memegang sebuah bola basket. Saat itu tangisku pun tak terbendung lagi. Foto itu mengingatkan aku pada sahabatku yang kini tak kuketahui keberadaannya. Aku sangat merindukannya, sahabat-sahabat terbaikku kini telah pergi meninggalkanku. Kini bayangan masa laluku kembali terlintas dikepalaku.
Ayu, sahabatku sejak SD. Orang yang selalu ada di sisiku dan selalu memberiku semangat dan motivasi. Ia jugalah yang telah membantu aku melewati masa-masa sulitku saat aku harus kehilangan orang yang paling aku sayangi.
“Fi…yang tabah ya” ucapnya saat itu. Aku memang membutuhkan seorang teman untuk mengobati kesedihanku kehilangan seorang mama di usiaku yang masih sangat belia.
“Makasi ya Yu, kamu mau menemaniku.”
“Aku akan tetap menemenimu sampai kapanpun.”
“Jangan pernah berhenti jadi sahabatku ya” pintaku.
“Aku akan tetap jadi sahabatmu Fi. Aku nggak akan meninggalkanmu” katanya sambil memelukku dengan erat.
Saat kelas 5 SD, aku mendengar kabar bahwa Ayu akan pindah. Saat itu aku sangat kecewa hingga tak bersemangat untuk datang ke sekolah. Namun saat sampai di kelas, aku melihat Ayu duduk manis di bangkunya. Aku sangat gembira dan saat itu juga aku berlari untuk memeluknya.
“Ayuuu,,, kok kamu ada di sini? Bukannya kamu harus pindah ke Binjai?” tanyaku.
“Iya mama bilang tanggung setahun lagi, jadi lebih baik aku pindahnya tahun depan saja” jawabnya.
Mendengar hal itu raut wajahku pun berubah menjadi sedih, tapi Ayu menghiburku.
“Sudah jangan sedih, kita masih punya setahun lagi loh” katanya “ kita habisi setahun ini dengan senang-senang. Ok?”
“Baiklah, no problem” kataku sambil merangkulnya.
Kami jalani hari-hari kami dengan penuh canda dan tawa. Tak pernah sekalipun Ayu lepas dariku begitu juga sebaliknya. Di sekolah kami sering dibilang anak kembar, kemana-mana selalu bersama. Katanya “dimana ada Ayu pasti ada Fifi, dimana ada Fifi pasti ada Ayu”. Hari-hari itu begitu menyenangkan bagiku, hingga akhirnya aku menerima kabar bahwa papaku akan menikah lagi. Aku, kakak dan juga abangku bersih keras menolak rencana ini. Apalagi mama baru satu tahun meninggalkan kami. Aku berpikir “Menagapa papa begitu cepat melupakan mama? Apakah ia sudah tak mencintai mama lagi?”, tapi Ayu menyadarkanku.
“Fi, kamu nggak boleh gitu dong. Ini juga demi kebaikkan kamu bukan hanya untuk papamu saja”
“Tapi,,kenapa harus secepat ini Yu? Apa papa sudah tak sayang lagi pada mama?”
“Fi, ingat mamamu sudah pergi dan tak akan kembali lagi. Papamu tak perlu bersedih teruskan untuk mengingat mamamu? Mungkin aja dia tetap menyayangi almarhum mama kamu meskipun dia nggak bilang sama kamu” katanya “mamamu akan tetap ada di dalam hati papamu. Aku yakin papamu takkan melupakan mamamu.”
“Apa itu benar Yu?” tanyaku padanya.
“Aku yakin itu benar” jawabnya “cinta sejati tak akan pernah hilangkan? Lagian selama ini kesetiaan papamu sudah sangat terbukti, dia mau menemani mamamu melawan penyakitnya sampai akhir hayat. Iyakan?”
Itu adalah kata-kata terindah yang pernah Ayu katakana padaku. Dia memang selalu bisa menenangkan hatiku yang sedang galau, dia selalu sabar menghadapiku.
Hari-hari begitu cepat berlalu. Ingin rasanya aku menghentikan waktu untuk tidak berjalan, tapi itu tak akan mungkin terjadi. Akhirnya kami pun akan tamat dari SD dan itu merupakan satu pertanda bahwa Ayu akan meninggalkanku.
“Yu, kamu mau pindah ke mana sih?” tanyaku.
“Aku harus ikut papaku pindah ke Binjai karena papaku dipindah tugaskan ke sana” jawabnya.
“Apa kamu harus ikut?”
“Ya iyalah Fi. Nggak mungkinkan aku tinggal di sini sendiri.”
“Kamukan bisa tinggal bersamaku” jawabku sambil menatapnya. Tak terasa air mataku pun menetes. Ayu datang menghampiriku dan memelukku.
“Nggak bisa gitu dong Fi, nanti aku merepotkan kalian. Lagian mama dan papa nggak akan mengizinkanku” jawabnya “jangan bersedih aku takkan melupakanmu.”
Tangisku pun semakin menjadi, aku tak dapat membayangkan bagaimana aku harus bertahan tanpa nasehatnya. Karena tak tahan akan perpisahan itu, aku pun tak datang untuk mengantarkannya. Kesedihan itu pun membuatku merasa bodoh karena tak sempat menanyakan alamatnya di Binjai.
Beberapa hari setelah kepergiannya aku terus melamun dan kehilangan semangat hidup.aku terus menyalahkan diri sendiri “Mengapa aku tak menanyakan alamatnya? Mengapa?” tanyaku “dasar idiot! Aku sungguh bodoh! Bodoh!” itulah pernyataan yang selalu terlontar dari mulutku. Seperti pungguk merindukan bulan aku mengharapkan kehadirannya di depanku. Aku berharap Ayu akan datang menemuiku. Tapi itu tak mungkin terjadi karena aku tahu Ayu tak akan menemukan rumah baruku. Aku belum sempat mengajaknya ke tempat tinggalku yang sekarang.
Mau tak mau, aku pun harus menjalani hariku kembali. Meskipun kini aku harus berjalan pincang sebab Ayu tak bersamaku lagi. Aku tak dapat melupakannya, tanpanya aku tak dapat menyelesaikan permasalahanku sendiri. Aku membutuhkannya seperti seorang pasien membutuhkan obatnya agar memperoleh kesembuhan. Hari-hari yang kulewati tak seindah dulu hingga akhirnya aku bertemu dengan Esti, teman baruku di SMP. Aku mulai dekat dengan Esti saat duduk di kelas 2 SMP. Ya…meskipun kami tidak sekelas, tapi kami bisa bergaul dengan akrab. Hal ini disebabkan karena kami sama-sama memiliki masalah dengan seorang guru di sekolah itu. Saat itu aku mendengar kabar bahwa dia memaki guru itu karena jengkel terhadap sikapnya.
“Hei Es, benar nggak sih? Katanya kamu memaki “si Gila” itu?” tanyaku. Ya kami memang memberi julukan guru itu dengan nama “ si Gila” karena dia benar-benar membuat kami pusing akan sikapnya yang tak menentu.
“Ya, habis aku kesel banget ama dia” cerocosnya “masa hanya karena nggak ngumpul catatan nggak boleh ikut ujian. Ya udah aku lempar aja itu buku ke depan mukanya waktu dia menyuruhku mengumpulkan catatanku.”
“Nekad juga kamu” jawabku “tapi bagus juga sih, dia memang harus dikasih pelajaran biar nggak sombong lagi. Aku juga punya masalah sama dia.”
“Masa sih?” tanyanya “bukannya kamu murid kesayangannya ya?”
“Iya. Kemarin dia menuduh aku yang membuat keributan di kelas. Padahal aku sama sekali nggak ada membuat keributan loh.”
“Trus kamu bilang apa?”
“Yah, aku marah-marah. Aku bilang bukan aku yang membuat keributan. Eh, dia nggak percaya. Ya udah, aku langsung melempar semua buku-buku trus aku langsung tidur aja.”
“WAH…keren tuh.”
Karena percakapan itulah aku mulai menjalin pertemanan dengan Esti. Sedikit demi sedikit aku mulai bisa menerima kepergian Ayu.
Kelas 3 SMP aku dan Esti pun masuk ke dalam kelas yang sama. Setiap pelajaran guru yang kami benci itu, kami selalu mengobrol karena kebetulan kami mendapatkan tempat duduk yang berdekatan. Meskipun setiap guru itu menerangkan kami tidak pernah mendengarkan, kami tetap mendapat nilai bgus dalam mata pelajaran yang diajarkannya. Hari demi hari kami lewati bersama, meskipun kami tidak hanya berdua saja. Kami membentuk gank cewek yang beranggotakan empat orang, aku, Esti, Tina dan Juni. Kami berempat selalu membuat suasana menjadi ramai dan hidup kembali. Gank kami banyak disukai oleh adik-adik kelas karena kami tidak pernah mempeributkan masalah senioritas. Kami berempat selalu ceria dan penuh dengan canda tawa. Kami saling berbagi cerita dan pengalaman. Aku merupakan sahabat terdekat Esti. Aku selalu mengingatkannya jika dia mulai kehilangan kontrol emosinya. Begitu juga Esti dia selalu mau mendengarkan keluh kesahku.
“Es, aku lagi bingung nih” ucapku.
“Memangnya kamu kenapa? Kamu lagi ada masalah ya?” tanyanya.
“Ya, aku lagi bimbang nih.”
“Saol apa sih? Kamu cerita aja kepadaku. Aku pasti akan membantumu mencari jalan keluarnya.”
“Aku lagi suka sama cowok, tapi cowok itu cuek banget sama aku dan sepertinya dia sangat membenciku” ujarku pelan.
“Aku tahu siapa cowok yang kamu maksudkan” katanya padaku. Sontak aku langsung menoleh padanya sambil mengernyitkan dahi seolah bertanya “dari mana kamu tahu?”
“Aku bisa lihat sikapmu terhadapnya, pandangan matamu beda banget kalau lagi melihatnya” jawabnya seolah tahu apa yang akan aku tanyakan.
“Memangnya siapa cowok yang lagi aku sukai?” tanyaku mengujinya.
“Dia, Ridokan?” jawabnya. Aku kaget sekali ketika Esti mengatakannya.
“Udah deh, kamu nggak perlu mikirin dia lagi. Dia memang orang yang aneh. Lebih baik kamu lupakan saja dia untuk sementara waktu. Sebentar lagi ujian loh. Nanti kamu nggak lulus lagi hanya karena mikiri dia.”
Itulah nasehat yang kuterima darinya. Kata-kata yang tak kusangka akan terucap oleh seorang Esti yang terkenal sebagai cewek paling cuke di kelas. Akhirnya aku mengikuti sarannya dan menjalani hari-hari seperti biasanya lagi.
Ujian akhirnya pun usai. Kami merayakannya dengan asyik berpesta di rumah Juni. Mungkin kami tak akan bersama lagi. Aku dan Juni berniat pindah dari sekolah itu sementara Esti dan Tina akan tetap melanjutkan di sekolah itu. Awalnya sedih harus berpisah dengan sahabatku lagi, tapi kami tetap menjalaninya. Buktinya kami masih tetap berhubungan dan sering jalan bareng. Kami juga masih bisa merayakan ulang tahunku dan Esti, yang kebetulan jatuh di bulan yang sama. Tapi mungkin itulah terakhir kalinya kami berjalan bersama. Tanpa sebab yang pasti Esti marah padaku dan tak mau bertemu denganku lagi.
“Fi, ini buku kamu” kata Tina saat aku datang ke sekolahnya.
“Loh Esti mana?” tanyaku saat menyadari Esti tak ada “tumben tuh anak. Biasanya kalau aku datang ke sini dia selalu menyambutku.”
“Nggak tahu, tadi dia marah-marah dan bilang jangan pernah nelpon, nge-sms, dan cari dia lagi” jawab Tina. Aku kaget mendengarnya.
“Kenapa?” tanyaku heran.
“Katanya kamu jelek-jeleki dia di belakang” jawabnya.
“Apa? Sejak kapan? Siapa yang bilang? Sumpah aku nggak pernah jelek-jeleki dia yang ada aku selalu memujinya di depan teman-temanku.”
“Aku nggak taulah Fi, dia bilang seperti itu tadi.” Jawabnya lalau meninggalkanku.
Aku tak tahu harus bagaimana. Aku bingung dengan semua ini, aku nggak pernah melakukan hal yang dituduhkannya. Aku berusaha untuk meminta maaf, tapi dia terus menghindar. Mungkin ada yang mau merusak hubunganku dengannya. Tapi aku nggak tau untuk apa? Kenapa ada yang tega merusak persahabatan kami? Aku pun menulis sebuah surat untuknya dan membahas semua hal yang pernah kami jalani. Aku juga menagih semua janji-janjinya padaku. Aku juga mengatakan “kita berteman baik-baik maka berpisah pun harus dengan jalan baik-baik juga”. Tapi dia hanya menjawab: “semua yang kamu bilang itu benar Fi, lebih baik kita anggap saja persahabatan kita tak pernah ada dan lupakan saja semua perkataanku dulu. Anggap kita tak pernah bertemu.” Itulah kata-kata terakhir yang diucapkannya padaku. Hatiku teriris, pedih. Sungguh pedih rasanya saat membaca tulisan itu. Kini aku kembali merasakan kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Sahabatku kini telah pergi lagi, meninggalkanku dalam luka hati yang mendalam.
Sekarang kuhanya sendiri meratapi foto-foto kenangan masa laluku. Masa-masa yang kulalui bersama sahabat-sahabatku. Meski kini mereka tak lagi bersamaku dan menganggapku sebagai sahabat mereka, aku akan tetap ingat bahwa aku pernah mengenal mereka. Kini aku harus terus melangkah menjalani hidup ini. Aku harus berusaha tegar dan mampu menyelesaikan persoalanku sendiri. Aku tak mau lagi menggantungkan hidupku pada orang lain. Sebab aku tak mau lagi terluka akibat kehilangan. Meski kini aku memiliki banyak teman, tapi aku tak akan pernah bergantung pada mereka dan menganggap mereka sahabatku. Rasanya ada trauma yang selalu menghantuiku. Aku takut untuk memulai kembali hubungan persahabatan dengan orang lain. Lebih baik kujalani hariku dalam kesendirian hingga luka di hatiku dapat terobati oleh waktu. Mungkin ini yang terbaik untukku. Suatu saat nanti, jika Tuhan menghendaki maka aku akan mendapatkan seseorang yang dengan tulus mau menjadi sahabatku. Sebab Dia tahu yang terbaik untukku.
A. Tujuan Permainan
Berbagai tujuan permainan ini adalah sebagai berikut:
• Membuat suasana kelas lebih nyaman
• Melatih siswa untuk belajar berpikir
• Menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam diri siswa
• Menumbuhkan rasa berani mengambil resiko
• Mempermudah dalam memahami materi pelajaran yang telah dijelaskan
B. Durasi Permainan
Tidak terbatas
C. Sifat Permainan
Beberapa sifat permainan ini, yaitu:
• Kelompok, dan
• Setiap kelompok terdiri atas 4-5 orang
D. Bahan yang Harus Dipersiapkan
Beragam bahan yang harus dipersiapkan, yakni:
• Daftar pertanyaan
• Amplop
• Pulpen
• Kertas untuk mencatat
E. Aturan Permainan
Berbagai aturan permainan ini adalah sebagai berikut:
• Buatlah daftar pertanyaan dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda.
• Masukkan pertanyaan ke dalam setiap amplop, kemudian tuliskan poin pada masing-masing amplop tersebut
• Amplop yang berisi pertanyaan yang paling sulit memiliki poin yang paling tinggi.
• Bagikan para siswa menjadi beberapa kelompok dan masing-masing kelompok beranggotakan 4-5 siswa.
• Mintalah kepada setiap kelompk untuk memilih amplop. Jika suatu kelompok dapat menjawab dengan benar, berilah poin yang sesuai dengan yang tertera pada amplop tersebut.
• Apabila suatu kelompok menjawab keliru maka kelompok ini akan dikurangi poinnya sesuai dengan poin yang tertera pada amplop itu.
• Setiap kelompok boleh memilih amplop, baik yang memilik poin yrendah maupun tinggi.
• Pada akhir permainan, jumlahkan poin-poin yang dikumpulkan oleh setiap kelompok.
• Pemenang dalam permainan ini adalah kelompok yang memperoleh poin yang paling tinggi.
• Diskusikan pertanyaan dan jawaban yang dikemukakan oleh setiap kelompok.
• Berilah komentar yang sesuai dengan porsi kesalahan setiap kelompok.
F. Daftar Pertanyaan
1. Sebutkan hal yang perlu diperhatikan dalam menulis berita!
2. Mengapa sebuah berita harus ditulis dengan seimbang oleh seorang penulis!
3. Jelaskan perbedaan antara wawancara terstruktur dan wawancara bebas!
4. Buatlah transkripsi wawancara dengan memilih salah satu teman kalian sebagai narasumber!
5. Jelaskan syarat-syarat penulisan berita!
6. Sebutkan langkah-langkah wawancara!
7. Sebutkan tips mnulis berita yang baik!
8. Sebutkan hal yang perlu diperhatikan dalam menulis berita!
9. Sebutkan syarat kelengkapan berita!
10. Buatkah sebuah berita dengan mencantumkan syarat kelengkapan berita tersebut!
11. Sebutkan dan jelaskan unsur-unsur sebuah berita!
12. Sebutkan pengertian dari berita dan wawancara!
A. Identitas
Satuan Pendidikan : SMA Kartika Siliwangi 2 Bandung
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas : X
Semester : 2
Alokasi Waktu : 2 x 45
Karakter kebangsaan : Jujur, Kreatif, Demokratis, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan
B. Standar Kompetensi
Berbicara, Mengungkapkan komentar terhadap informasi dari berbagai sumber (Rasa ingin tahu, mandiri, kerja keras)
C. Kompetensi Dasar
Memberikan kritik terhadap informasi dari media cetak atau elektronik (Rasa ingin tahu, mandiri, kerja keras)
D. Materi Pokok
• Contoh berita yang diserahkan oleh guru yang berjudul “Pengabdian Andy Siahaan pada Masyarakat”, serta berita-berita yang dibuat langsung oleh siswa.
• Unsur-unsur dan syarat-syarat berita.
E. Indikator
1. Kognitif
a. Produk
• Siswa mendata informasi dari artikel dengan mencantumkan sumbernya.
• Siswa merumuskan pokok-pokok persoalan yang menjadi bahan perdebatan umum di masyarakat.
b. Proses
• Siswa membaca artikel yang menarik baginya untuk diberikan kritik.
• Siswa menulis kritik disertai alasan yang logis.
2. Psikomotor
• Siswa memberikan kritik dengan disertai alasan di depan kelas.
• Siswa mengomentari dan menilai hasil kerja temannya.
3. Afektif
a. Karakter
• kerja sama
• jujur
• kreatif
• demokratis
b. Keterampilan sosial
• Bertanya dengan bahasa yang baik dan benar
• Menyumbangkan ide
• Menjadi pendengar yang baik
• Membantu teman sekelas yang mengalami kesulitan
F. Tujuan Pembelajaran
1. Kognitif
a. Produk
• Siswa mampu mendata informasi dari artikel dengan mencantumkan sumbernya.
• Siswa mampu merumuskan pokok-pokok persoalan yang menjadi bahan perdebatan umum di masyarakat.
b. Proses
• Siswa mampu membaca artikel yang menarik baginya untuk diberikan kritik.
• Siswa mampu menulis kritik disertai alasan yang logis.
2. Psikomotor
• Siswa mampu memberikan kritik dengan disertai alasan di depan kelas.
• Siswa mampu mengomentari dan menilai hasil kerja temannya.
3. Afektif
a. Karakter
Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperlihatkan kemajuan dalam berperilaku, seperti: kerja sama, jujur, kreatif dan demokratis.
b. Keterampilan sosial
Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperlihatkan kemajuan dalam keterampilan bertanya dengan bahasa yang baik dan benar, menyumbangkan ide, menjadi pendengar yang baik, membantu teman sekelas yang mengalami kesulitan.
G. Model dan Metode Pembelajaran
Model pembelajaran : Cooperative Learning
Metode pembelajaran : penugasan, diskusi, unjuk kerja, inkuiri
H. Langkah-langkah Pembelajaran
a. Pendahuluan (15 menit)
• Guru mengecek kehadiran siswa. (Disiplin, Tanggung Jawab)
• Guru mengondisikan kelas sehingga kondusif. (Religius, Disiplin, Tanggung Jawab)
• Guru memeriksa kerapian dan kehadiran siswa. (Disiplin, Tanggung Jawab)
1. Apersepsi
• Guru menanyakan tentang materi yang telah dipelajari minggu lalu
• Guru membahas pekerjaan rumah yang diberikan minggu lalu.
• Guru memberitahu materi ajar yang akan diberikan.
2. Motivasi
• Guru memberikan ilustrasi model/kasus yang mengarah pada materi yang akan dibahas.
b. Pengembangan ( 60 menit)
1. Eksplorasi
• Guru menjelaskan mengenai unsur-unsur dan syarat-syarat berita.
• Guru memberikan contoh mengenai unsur-unsur dan syarat-syarat berita.
2. Elaborasi
• Guru memberikan games pertama kepada siswa. Games tersebut bertujuan untuk memberikan hukuman kepada siswa yang melakukan kesalahan.
• Siswa yang kalah dipersilahkan untuk membacakan berita yang telah dia bat dan menjawab unsur-unsur berita.
• Siswa yang lain memberikan komentar/kritik mengenai berita/informasi yang dibacakan siswa lain.
• Guru memberikan games kedua kepada siswa. Siswa yang tidak dapat menghitung berdasarkan peraturan mendapatkan hukuman.
• Siswa diberikan hukuman untuk mengkritik berita temannya yang ia bacakan di depan kelas.
• Guru memberikan pertanyaan kepada siswa lain.
3. Konfirmasi
• Siswa menyimpulkan kembali isi rekaman.
• Guru menyebutkan fase-fase pembelajaran dan memberikan ksempatan untuk bertanya,
• Guru menginformasikan materi ajar berikutnya.
c. Penutup (15 menit)
• Guru memotivasi siswa agar mampu dan berani mengkritik dan memberikan saran mengenai berita/informasi yang ia ketahui.
• Guru memberikan tugas mandiri tidak terstruktur untuk membuat berita mengenai tokoh panutannya dan berita akademis.
• Guru memberitahukan materi yang akan diajarkan pada pertemuan berikutnya.
I. Bahan
Artikel berita, LKS.
J. Alat
Papan Tulis, Spiker, Komputer dam Lembar Kerja
K. Sumber Pembelajaran
1. Lembar Kerja
2. LP1= Kognitif: Produk
3. LP2= Kognitif: Proses
4. LP3=3 Psikomotor
5. LP4= Afektif: Perilaku Berkarakter
6. LP5= Afektif: kterampilan Sosial
L. Penilaian
Jenis Tagihan:
• Tugas individu: LP3
• Kelompok : LP1, LP2, LP4 dan LP5
• Ulangan : Lembar Kerja
Bentuk Instrumen
• Uraian Bebas
• Lembar Pengamatan
Mengetahui, Bandung, Februari 2012
Guru Pamong, Guru PPL,
Dra. Ida Hermina Fitri Meylina Tobing
NIP. 195902031986032006 NIM 080367
LP1= Kognitif: Produk
1. Sebutkan informasi pokok dalam berita tersebut!
No Informasi pokok
2. Sebutkan unsur-unsur berita!
No Unsur-unsur berita
1. What?
2. Who?
3. When?
4. Why?
5. How?
LP 2 = Kognitif: Proses
Prosedur:
Tulislah kritik disertai alasan mengenai berita yang anda dengarkan!
FORMAT ASESMEN KINERJA PROSES
No. RincianTugasKinerja Skor maksimum
1 Menuliskan kritik dengan bahasa yang santun serta terkait dengan topik yang dibicarakan
(skor max 50)
2 Menuliskan alasan dengan bahasa yang santun, kejujuran pendapat serta penuh tanggung jawab
(skor max)50
LP 3 = Psikomotor
FORMAT ASESMEN KINERJA PSIKOMOTOR
No. Rincian Tugas Kinerja Skor maksimum
1 Memberikan kritik dengan bahasa yang santun dan terkai dengan topik artikel hasil diskusi kelompok
(skor max 50)
2 Mengomentari kritik yang disampaikan kelompok lain (skor max 30)
3 Menilai kritik yang disampaikan kelompok lain sesuai format penilaian yang telah disediakan guru (skor max 20)
LP 4 = Afektif: Perilaku Berkarakter
FORMAT PENGAMATAN PERILAKU BERKARAKTER
No. Rincian Tugas Kinerja (RTK) Memerlukan perbaikan (D) Menunjukkan Kemajuan (C) Memuaskan (B) Sangat Baik (A)
1 Kerja sama
2 Jujur
3 Bertanggung jawab
4 Apresiatif
5 Kemandirian
LP 5 = Afektif: Keterampilan Sosial
FORMAT PENGAMATAN KETERAMPILAN SOSIAL
No. Rincian Tugas Kinerja (RTK) Memerlukan perbaikan (D) Menunjukkan Kemajuan (C) Memuaskan (B) Sangat Baik (A)
1 Bertanya dengan bahasa yang baik dan benar
2 Menyumbang ide
3 Menjadi pendengar yang baik
4 Membantu teman yang mengalami kesulitan
Games I
Petunjuk: Guru memberikan penjelasan kepada siswa agar siswa menangkap tangan kanan temannya sambil berusaha menghindari penangkapan tangan kanannya sendiri saat mendengar guru menyebutkan kata “apel”. Guru membacakan sebuah cerita.
Doni ingin sekali makan buah kesukaannya. Karena itu, ia pergi ke supermarket untuk membeli buah Apel kesukaannya itu. Sesampainnya ia di supermarket, Doni langsung menuju tempat buah. Doni berhenti di tempat buah. Ia melihat buah yang berwarna merah, lalu ia berjalan ke tempat buah tersebut. Ia mengambil buah merah tersebut lalu tersenyum sambil berkata “Sudah lama aku tidak makan buah Leci ini, tapi sayang aku bawa uang pas-pasan banget jadi hanya bisa beli buah Apel saja”.
Kemudian ia berjalan lagi untuk mencari buah Apelnya. Doni bertemu dengan seorang petugas yang sedang membawa buah berwarna merah kebiru-biruan. Lalu ia menghampiri petugas itu lalu berkata “Apakah itu buah Apel Pak?”, petugas itu menjawab “Bukan, ini buah Anggur Pak”. Doni terus berjalan mencari buah Apel kesukaannyaitu hingga ia berhenti di tempat buah. Ia melihat buah merah tersebut “Buah Ceri ini sangat menggoda, tapi aku mau buah Apel” serunya. Setelah mencari-cari akhirnya Doni mendapatkan buah Apel kesukaanya tersbut. “Ini dia buah Apel yang kucari”.
Games II
Petunjuk: Guru memberikan penjelasan agar siswa mulai berhitung. Namn urutan hitungnya kali ini berbeda dari sebelumnya. Sehingga guru harus menjelaskan dan menuliskan urutannya di papan tulis. Urutannya sebagai berikut: 1-1-2-1-2-3-1-2-3-4-1-2-3-4-5. Siswa yang salah urutan hitungnya dikenakan hukuman.
Narkoba merupakan bahan atau zat yang bila masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi tubuh terutama susunan syaraf pusat/otak sehingga bilamana disalahgunakan akan menyebabkan gangguan fisik, psikis atau jiwa dan fungsi sosial. Selain Narkoba, istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan RI adalah NAPZA yaitu singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya. Semua istilah ini sebenarnya mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai risiko yang oleh masyarakat disebut berbahaya yaitu kecanduan (adiksi).
Jenis Narkotika yang sering disalahgunakan adalah morfin, heroin (putauw), petidin, termasuk ganja atau kanabis, mariyuana, hashis dan kokain. Sedangkan jenis Psikotropika yang sering disalahgunakan adalah amfetamin, ekstasi, shabu, obat penenang seperti mogadon, rohypnol, dumolid, lexotan, pil koplo, BK, termasuk LSD, Mushroom.
Sering kali pemakaian rokok dan alkohol terutama pada kelompok remaja (usia 14-20 tahun) harus diwaspadai orangtua karena umumnya pemakaian kedua zat tersebut cenderung menjadi pintu masuk penyalahgunaan Narkoba lain yang lebih berbahaya (putauw). Mulanya penyebar narkoba mengincar kelompok remaja, namun sekarang kelompok penyebar narkoba ini mengincar publik figur (selebriti atau artis dan pejabat pemerintahan).
Publik figur merupakan sasaran empuk bagi para penyebar atau sering disebut bandar-bandar narkoba. Sebab kehidupan publik figur selalu di kelilingi dengan permasalahan hidup, baik dalam kehidupan pribadi maupun pekerjaan. Adanya tekanan baik dari dalam maupun luar lingkungan hidup para publik fgur membuat mereka seringkali terjerumus oleh arus pergaulaan.
Banyak artis yang terjerumus oleh kenikmatan yang ditawarkan, sebab tekanan hidup terutama tekanan pekerjaan yang mereka geluti membawa mereka untuk mencari pelampiasan. Dunia malam yang mereka anggap pengusir kepenatan dalam pekerjaan mereka malah membawa mereka semakin terpuruk dalam kegelapan. Hal ini cukup memalukan, sebab artis dan pejabat negara yang kehidupannya disorot dan dijadikan panutan oleh masyarakat bukannya memberikan contoh yang baik.
Kasus penangkapan Yoyo, drummer Padi, baru-baru ini menambah rentetan panjang daftar nama artis yang masuk “hotel prodeo” karena narkoba. Belum lagi usai cerita penangkapan Ibra Azhari untuk yang ketiga kalinya muncul nama Yoyo sebagai pengguna yang sudah lama diincar oleh pihak berwajib. Penangkapan Yoyo membuat aparat polisi mulai memperketat pelacakan dan mengawasi para selebriti tanah air. Disebut-sebut polisi sedang mengincar puluhan artis yang diduga terlibat dengan barang haram tersebut.
Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya mengatakan bahwa pecandu narkoba dimasyarakat khususnya dikalangan artis meningkat pada tahun 2010. Hal ini terbukti dari kasus-kasus yang ada, hampir pengguna narkoba datangnya dari kalangan artis. Lebih lanjut, Anjan menjelaskan jumlah peningkatan ini diketahui dengan meningkatnya jumlah artis yang meminta rehabilitasi ke Polda Metro Jaya di tahun ini. "Ada peningkatan di awal tahun ini, tapi tidak usah kita sebutkan lah jumlahnya," imbuhnya.
Kendati demikian, pihaknya mengharapkan para artis yang saat ini masih menggunakan narkoba bisa menyerahkan diri atau melapor untuk mendapatkan rehabilitasi. "Jangan sampai kami tangkap baru minta rehabilitasi," tegasnya. Selanjutnya, Anjan menuturkan, saat ini pihaknya juga telah mengantongi beberapa nama selebritis yang diduga menggunakan narkoba. Meski tidak menyebutkan nama, Anjan menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan pengintaian. "Ada beberapa nama di antaranya terindikasi sebagai pengguna yang sudah lama," jelasnya.
Pihak kepolisian juga, kata Baharudin, tidak menindak seandainya para pecandu tersebut tertangkap. Bila mereka tertangkap dengan barang bukti maka tidak menutup kemungkinan mereka akan dikenakan hukuman seperti diatur dalam UU No.35/2009 tentang narkotika yang disebutkan, pihak pemerintah diwajibkan memberikan rehabilitasi bagi pecandu narkoba yang melapor atau menyerahkan diri.
Jika selama ini para selebritas yang terlibat penyalahgunaan narkoba langsung ditangkap petugas polisi, maka penangkapan tidak akan dilakukan bila mereka melaporkan diri. Namun, bila si pengguna ternyata tidak melaporkan diri maka akan diproses sesuai hukum yang berlaku. Hal ini sesuai UU baru yang sudah mulai diberlakukan pada Jumat (7/1/11).
Anang Iskandar dari Badan Narkotika Nasional (BNN) mengatakan, apabila ada artis yang mengkonsumsi narkoba, maka sesuai UU dia harus melapor atau ke Puskesmas terdekat. Sudah barang tentu, UU BNN yang baru itu sangat diskriminatif karenanya menuai kecaman dari berbagai kalangan di masyarakat. Mereka mempertanyakan kenapa UU itu bersifat pilih kasih? Padahal katanya hukum itu berlaku untuk semua orang yang dinilai sudah dewasa.
Artis juga manusia. Jika mereka sudah sekali melakukan maka dia akan mengulangi kembali. Begitu juga dengan soal artis pemakai narkoba, karena dalam narkoba itu mengandung bahan yang membuat seseorang ketagihan.
Apabila artis hanya disuruh melapor saja, bukan tidak mungkin mereka akan mengakalinya. Ada istilah penjahat lebih pintar daripada polisi. Ini artinya mereka akan memanfaatkan kelengahan aparat keamanan untuk melakukan aksinya. Oleh karena itu, pemerintah seharusnya membuat peraturan yang lebih bijaksana lagi dan menguntungkan semua pihak bukan hanya dari kalangan publik figur atau artis saja.
Secara umum bentuk soal terbagi ke dalam dua bagian, yakni soal essai dan soal objektif. Soal essai adalah pertanyaan yang menuntut siswa menjawab dalam bentuk menguraikan, menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan, memberikan alasan, dan bentuk lain yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri. Maka dalam test dituntut kemampuan siswa untuk menggeneralisasikan gagasannya memalului bahasan tulisan.
Soal objektif ini lebih baru dari soal essay, tetapi bentuk test ini banyak digunakan dalam menilai hasil belajar disekolah-sekolah. Hal ini disebabkan antara lain karena luasnya bahan pelajaran yang dapat dicapai dalam test dan mudahnya menilai jawaban test. Test ini dikategori selalu menghasilkan nilai yang sama meskipun yang menilai guru yang berbeda atau guru yang sama pada waktu yang berbeda. Test objektif lebih dikategori pada speed tests.
1.2Rumusan dan Batasan Masalah
·Apa yang dimaksud dengan evaluasi ?
·Apa yang dimaksud dengan tes uraian dan bagaimana contoh soal uraian ?
·Bagaimana cara penilaian pada tes uraian?
·Apa yang dimaksud dengan soal objektif dan bagaiman contoh soal objektif ?
·Apa kelebihan dan kekurangan tes uraian?
1.3Tujuan Penulisan
Dalam penulisan sebuah makalah pada intinya ada tujuan yang harus dicapai, baik itu tujuan umum maupun tujuan khusus. Seperti tujuan penulisan makalah ini pada umumnya untuk memenuhi kewajiban salah satu tugas mata kuliah Evaluasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Sedangkan tujuan khususnya adalah untuk membahas dan mempelajari lebih dalam mengenai topik yang ada dalam matakuliah ini khusunya mengenai bentuk-bentuk soal, yakni soal objektif dan soal essai. Tujuan yang ingin dicapai dari proses pembuatan makalah ini adalah agar kami mengetahui teknik dalam pembuatan bentuk soal yang akan diujikan kepada anak didik kami kelak setelah kami mengajar dikemudian hari agar proses belajar mengajar yang dilaksanakn dapat berjalan dengan baik sesuai dengan apa yang diharapkan.
1.4 Manfaat Penulisan
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat dalam pemahaman dan pendalaman mengenai konsep macam-macam bentuk soal. Penyusun berharap makalah ini tidak hanya bermanfaat bagi kami khususnya melainkan bagi pembaca umumnya, karena untuk memahami apa itu macam-macam bentuk soal secara global, pembaca dapat membaca dari berbagai literatur. Selain itu, pembaca perlu sebuah bahan yang berupa suatu ringkasan, seperti halnya sebuah makalah ini. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami selaku penulis, umumnya bagi siapa saja yang berkenan untuk membacanya.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Evaluasi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, evaluasi diartikan sebagai penilainan. Sedangkan evaluasi menurut Benyamin S. Bloom adalah pengumpulan bukti-bukti yang cukup untuk kemudian dijadikan dasar penetapan ada tidaknya perubahan dan derajat perubahan yang terjadi pada diri siswa atau anak didik. Bukti-bukti yang dikumpulkan dapat bersifat kuantitatif (dalam bentuk angka-angka), dan dapat pula bersifat kualitatif, yaitu menunjukkan kualifikasi seperti: baik sekali, baik, sedang atau cukup, rajin, cermat dan lain-lainnya. Bukti-bukti kuantitatif atau kualitatif yang dikumpulkan harus memenuhi persyaratan tertentu agar dapat dijadikan dasar pengambilan keputusah ada tidaknya perubahan perilaku serta derajat perubahan yang ada secara adil dan objektif.
2.2 Tes Uraian/Esai
2.2.1 Pengertian Tes Uraian
Tes uraian adalah bentuk tes yang mengandung pertanyaan yang jawabannya tidak disediakan oleh pembuat soal. Tes esai adalah suatu bentuk tes yang terdiri dari pertanyaan atau suruhan yang menghendaki jawaban yang berupa uraian-uraian yang relatif panjang Nurkancana dan Sumartana (1986: 42). Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam sebuah tes uraian, siswa dituntut untuk dapat mengekspresikan apa yang ada di dalam pikirannya dengan menggunakan kata-kata sendiri. Oleh karena itu, dalam tes uraian sangat mungkin terdapat variasi yang berbeda dalam jawaban yang diberikan oleh siswa, karena jawaban yang diberikan bersifat subjektif. Tes uraian biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif yang relative tinggi dan kompleks.
Soal-soal tes uraian pada umumnya mengandung permasalahan dan menuntut penguraian sebagai jawaban, sehingga apabila direncanakan dengan baik, soal berbentuk uraian sangat tepat digunakan untuk menilai cara berpikir siswa dalam memecahkan sebuah masalah dan cara siswa untuk mengungkapkannya dalam bentuk tulisan. Terdapat tiga faktor yang harus dilihat untuk dapat menentukan apakah butiran soal tertentu itu baik atau tidak. Pertama, tingkat kesukaran. Kesukaran butiran soal ditentukan oleh perbandingan antara banyaknya siswa yang menjawab soal itu benar dan banyaknya siswa yang menjawab butiran soal itu. Kedua, indeks diskriminasi atau daya pembeda adalah korelasi antara skor jawaban terhadap sebuah butiran soal dengan skor jawaban seluruh soal. Ketiga, melihat bagaimana pilihan jawaban lain dipilih oleh kelompok-kelompok itu dibandingkan dengan pilihannya terhadap pilihan yang benar.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan tes soal uraian. Tes uraian dapat digunakan apabila:
1. Jumlah siswa atau peserta tes terbatas.
2. Waktu yang dipunyai guru untuk mempersiapkan soal sangat terbatas.
3. Tujuan instruksional yang ingin dicapai adalah kemampuan mengekspresikan pikiran dalam bentuk tertulis, menguji kemampuan dengan baik, atau penggunaan kemampuan penggunaan bahasa secara tertib.
4. Guru ingin memperoleh informasi yang tidak tertulis secara langsung di dalam soal ujian tetapi dapat disimpulkan sari tulisan peserta tes, seperti : sikap, nilai, atau pendapat. Soal uraian dapat digunakan untuk memperoleh informasi langsung tersebut, tetapi harus digunakan dengan sangat hati-hati oleh guru.
5. Guru ingin memperoleh hasil pengalaman belajar siswanya.
Soal uraian (essai) berbeda dengan soal objektif dalam kebenarannya yang bertingkat. Jawaban tidak dinilai mulai dari 100% benar dan 100% salah. Kebenaran bertingkat tergantung tingkat kesesuaian jawaban siswa dengan jawaban yang dikehendaki yang dituangkan dalam kunci. Jawaban mungkin mengarah kepada jawaban yang tidak tunggal (divergence). Kebenaran yang dicapai bisa 0%, 20%, 30%, 50%, 70%, atau 100% tergantung ketepatan jawabannya.
2.2.2Jenis Tes Uraian
Tes uraian dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu, tes uraian bentuk terbuka (extended response) dan tes uraian terbatas (restricted response). Pembagian jenis tes ini berdasarkan pada kebebasan yang diberikan pembuat soal kepada penjawab soal atau siswa untuk menuangkan hasil gagasan atau pemikirannya. Pada tes uraian terbuka setiap peserta tes sepenuhnya memiliki kebebasan untuk menjawab sesuai dengan yang dipikirkannya. Sedangkan tes uraian terbatas jawaban yang dikehendaki adalah jawaban yang sifatnya sudah dibatasi.
2.2.3Kelebihan Tes Uraian
1.Tes uraian dapat dengan baik mengukur hasil belajar yang kompleks.
2.Tes bentuk uraian terutama menekankan kepada pengukuran kemampuan dan kemampuan menguraikan berbagai hasil pemikiran dan sumber informasi kedalam suatu pola berpikir tertentu, yang disertai dengan keterampilan pemecahan masalah.
3.Bentuk tes uraian lebih meningkatkan motivasi peserta didik untuk melahirkan kepribadiannya dan watak sendiri.
4.Memudahkan guru untuk menyusun butir soal.
5.Tes uraian sangat menekankan kemampuan menulis.
6.Tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk menebak jawaban.
7.Dapat mengetahui sejauh mana penguasaan siswa terhadap suatu materi
2.2.4Kelemahan tes uraian
1. Reliabilitasnya rendah artinya skor yang dicapai oleh peserta tes tidak konsisten bila tes yang sama atau tes yang parallel yang diuji ulang beberapa kali. Menurut Robert L. Ebel A. Frisbie (1986 : 129) terdapat tiga hal yang menyebabkan tes uraian realibilitasnya rendah yaitu pertama keterbatasan sampel bahan yang tercakup dalam soal tes. Kedua, batas-bayastugas yang harus dikerjakan oleh peserta tes sangat longgar, walaupun telah diusahakan untuk menentukan batasan-batasan yang cukup ketat. Ketiga, subjektifitas penskoran yang dilakukan oleh pemeriksa tes.
2. Untuk menyelesaikan tes uraian guru dan siswa membutuhkan waktu yang banyak.
3. Jawaban peserta tes kadang-kadang disertai bualan-bualan.
4. Kemampuan menyatakan pikiran secara tertulis menjadi hal yang paling membedakan prestasi belajar siswa.
5. Memeriksa hasil tes relatif sulit dan memerlukan waktu yang lebih lama.
6. Dalam penilaian mudah dipengaruhi unsur subjektivitas dari penilai.
7. Kurang representatif dalam mewakili materi pelajaran, karena hanya terdiri dari beberapa butir soal.
8. Pemeriksanya hanya dapat dilakukan oleh ahlinya.
9.Ruang lingkup yang diungkap sangat terbatas.
10.Memungkinkan timbulnya keragaman dalam memberikan jawaban sehingga tidak ada rumusan benar yang pasti. Lebih memberikan peluang untuk bersifat subjektif.
11.Penggunaan soal esai membutuhkan waktu koreksi yang lama dalam menentukan nilai.
2.2.5Cara penilaian tes uraian
2.2.5.1 Cara Memeriksa Tes Uraian
- Memeriksa tes bentuk essai lebih sulit dibandingkan dengan bentuk tes objektif. Siapapun yang menilai lembar jawaban tes objektif hasilnya pasti sama. Sedangkan memeriksa tes essay hasilnya bisa berbeda kalau yang memeriksa orangnya berbeda, sekalipun kriteria jawaban yang tepat sudah ditetapkan. Itu sebabnya bentuk tes ini disebut dengan tes subjektif.
- Untuk menghindari faktor subjektifitas maka sebaiknya sebelum memeriksa lembar jawaban dipersiapkan dulu kriteria jawaban yang benar. Ada dua cara yang bisa dilakukan dalam memeriksa lembar jawaban tes objektif.
- Lembar jawaban diperiksa perorang. Maksudnya setelah selesai memeriksa punya si A dan diberi skor lalu memeriksa punya si B, lalu si C dan seterusnya.
- Lembar jawaban diperiksa nomor demi nomor. Misalnya satu lokal terdiri dari 30 orang, maka pemeriksaan lembar jawaban dilakukan mulai nomor satu pada seluruh lembar jawaban essay. Setelah selesai dilanjutkan dengan nomor dua untuk seluruh lembar jawaban mahasiswa demikian seterusnya.
Bila dibandingkan cara pertama dengan cara kedua maka cara kedua lebih objektif. Sedangkan cara pertama lebih subjektif. Oleh karena itu sebaiknya untuk memperoleh hasil yang lebih objektif gunakan cara kedua.
2.2.5.2 Pemberian Skoring pada tes Essai
Pemberian skoring dapat dipilih dari beberapa skala pengukuran, misalnya skala 1-4, 1-10 dan 1-100. Sebaiknya jangan memberikan skor nol. Mulailah skoring dari angka 1. Semakin tinggi skala pengukuran yang digunakan maka hasilnya semakin halus dan akurat. Pemberian skor ini berlaku sama untuk semua nomor soal.
Setelah menetapkan skoring langkah selanjutnya adalah menetapkan pembobotan sesuai dengan tingkat kesukaran soal. Sebaiknya gunakan skala 1-10. misalnya soal yang mudah diberi bobot 2, sedang bobotnya 3 dan soal yang sulit bobotnya 5.
Ada juga yang melakukan penilaian lembar jawaban tidak mengikuti cara di atas, dimana setiap soal langsung diberi bobot nilai tanpa mempertimbangkan skala pengukuran. Sehingga skala pengukuran tiap item tidak sama.
Proses penetapan skornya adalah sebagai berikut:
1. skor setiap Item diperoleh dengan cara nilai setiap item dikali Bobot.
2. Jumlahkan total nilai (skor kerja) setiap item lalu dibagi dengan skor ideal.
Untuk lebih jelasnya berikut akan diberikan contoh perhitungan.
Nilai rata-rata sebelum diberi bobot adalah 35/6 = 5,833
Nilai rata-rata setelah diberi bobot adalah 104/35 = 2,971
Pemberian bobot dalam pengolahan lembar jawaban soal essay sangat penting, karena skor diberikan benar-benar atas dasar kemampuan. Kenyataan juga menunjukkan bahwa setiap item tes tingkat kesukarannya berbeda.
2.2.6Soal Uraian
Soal uraian adalah butiran soal yang mengandung pertanyaan atau tugas yang jawaban atau pengerjaan soal tersebut harus dilakukan dengan cara mengekspresikan pikiran peserta tes secara naratif.Ciri khas soal uraian ialah jawaban terhadap soal tersebut tidak disediakan oleh orang yang mengkontruksi butir soal, tetapi dipasok oleh peserta tes. Peserta tes bebas untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Setiap peserta tes dapat memilih, menghubungkan, dan atau menyampaikan gagasan dengan menggunakan kata-katanya sendiri.
Contoh:
·Jelaskan 2 perbedaan antara pasar tradisional dan pasar modern!
Jawaban:
pasar tradisional: harga dapat ditawar dan tidak kena pajak
pasar modern: harga pasti dan kena pajak.
·Tuliskan dan jelaskan 6 macam hak asasi manusia yang mendapat perlindungan dan pelayanan dalam UUD 1945!
2.3Tes Objektif
2.3.1 Pengertian Tes Objektif
Tes objektif adalah jenis tes yang didalamnya sudah disediakan alternatif atau kemungkinan jawaban yang dapat dipilih oleh siswa. Oleh karena sifatnya yang demikian Popham (1981 : 235) menyebutnya dengan istilah tes pilihan jawaban (selected response test).
2.3.2Jenis tes objektif
Bentuk tes objektif secara umum memiliki 3 tipe yaitu:
2.3.2.1Benar-salah (true false)
Tes benar salah adalah bentuk tes yang mengajukan beberapa pernyataan yang bernilai benar atau salah. Biasanya ada dua pilihan jawaban yaitu huruf B yang berarti pernyataan tersebut benar dan S yang berarti pernyataan tersebut salah. Tugas peserta tes adalah menentukan apakah pernyataan tersebut benar atau salah.
Contoh:
“Uap panas termasuk zat cair. (Benar/Salah)”
Butir soal benar-salah memiliki kekuatan antara lain :
1. Mudah dikontruksi.
2. Perangkat soal dapat mewakili seluruh pokok bahasan.
3. Mudah diskor.
4. Alat yang baik untuk mengukur fakta dan hasil belajar langsung terutama berkenaan dengan ingatan.
Adapun kelemahan butir soal tipe benar-salah adalah :
1. Mendorong peserta tes untuk menebak jawaban.
2. Terlalu menekankan kepada ingatan.
3. Peserta tes harus selalu memberikan penilaian absolut.
Beberapa petunjuk yang merupakan persyaratan dalam penulisan butir soal benar salah yaitu :
1. Setiap butir soal harus menguji atau mengukur hasil belajar peserta tes yang penting dan bermakna, tidak menanyakan hal yang remeh (trivial). Misalnya:
Lemah : Haji Samanhudi seorang pedagang batik dari solo
Lebih baik : Haji Samanhudi adalah pendiri Syarekat Dagang Islam.
2. Setiap soal haruslah menguji pemahaman, tidak hanya pengukuran terhadap daya ingat. Butir soal tidaklah dianjurkan untuk menguji kemampuan mengingat kata atau frase yang terdapat dalam buku ajar atau bacaan lainya. Misalnya:
Lemah : B-S : Bila penawaran banyak sedangkan permintaan sedikit maka harga akan turun.
Lebih baik : B-S : Pak udi membeli pakaian sangat murah karena di pasar barang itu tersedia banyak sedangkan yang membeli sangat jarang.
3. Kunci jawaban yang ditentukan haruslah benar.
4. Butir soal yang baik haruslah jelas bagi seseorang peserta tes yang belajar dan jawaban yang salah kelihatan seakan-akan benar bagi peserta tes yang tidak belajar dengan baik.
5. Pernyataan dalam butir soal harus dinyatakan secara jelas dan menggunakan bahasa yang baik dan benar.
Butir soal benar-salah dapat dimodifikasi sehingga dapat meningkatkan daya bedanya dan mengurangi kelemahan utamanya yaitu mendorong penerkaan.
2.3.2.2Mejodohkan (matching)
Tes menjodohkan ini memiliki satu seri pertanyaan dan satu seri jawaban. Tugas peserta tes adalah mencari pasangan setiap pertanyaan yang terdapat dalam seri pertanyaan dan seri jawaban. Contoh bentuk tes menjodohkan adalah :
Contoh:
“Pasangkanlah pertanyaan yang ada pada lajur kiri dengan yang ada pada lajur kanan dengan menempatkan huruf yang terdapat dimuka pernyataan lajur kiri pada titik-titik yang disediakan di lajur kanan.”
Cocokanlah kota di bawah ini dengan propinsi kota itu berada :
a.Bandung . . . . . . . . … 1. Jawa Tengah
b.Medan . . . . . . . . . . . . . 2. Jawa Barat
c.Surabaya . . . . . . . . . . . . 3. Jawa Timur
d.Semarang. . . . . . . . . . . 4. Sumatera Utara
Keunggulan tes memasangkan
-Waktunya relatif singkat
-Banyak pertanyaan dapat diajukan sehingga dapat mengukur ruang lingkup bahasan yang lebih luas
-Faktor terka-menerka kecil
-Penilaiannya mudah dan objektif.
Kelemahan Tes memasangkan/ menjodohkan
-Sukar untuk menentukan materi/pokok bahasan yang mengukur hal-hal yang berhubungan
-Hanya dapat mengukur hal-hal yang didasarkan pada fakta dan hafalan saja.
2.3.2.3Pilihan ganda (multiple choice)
Tes bentuk pilihan ganda merupakan tes yang memiliki satu pemberitahuan tentang suatu materi tertentu yang belum sempurna serta beberapa alternatif jawaban yang terdiri dari kunci jawaban dan pengecoh. Tugas peserta tes adalah memilih jawaban dari pilihan yang tersedia dan paling sesuai dengan pernyataan yang ada dalam soal.
Dilihat dari strukturnya bentuk soal pilihan banyak terdiri atas:
-Stem :suatu pertanyaan / pernyataan yang berisi permasalahan yang akan ditanyakan
-Option :sejumlah pilian/alternatif jawaban
-Kunci :jawaban yang benar/paling tepat
-Distractor/pengecoh :jawaban-jawaban lain, selain kunci (Sudjana, 2004:267)
Contoh:
1. Pemilihan Presiden di Indonesia dilaksanakan setiap berapa tahun?
a. 3 tahun b. 4 tahun
c. 5 tahun d. 6 tahun
2. Indonesia beribu kota di?
a. Bandung b. Yogyakarta
c. Jakarta d. Bukitinggi
3. bunti /e/ pada kata enak sama dengan bunyi /e/ pada kata…
a. beras b. bebas
c. bela d. bekas
2.3.3Kelebihan Tes Objektif
-Waktu yang dibutuhkan relative lebih singkat
-Panjang pendeknya suatu tes (banyak sedikitnya butir soal) bisa berpengaruh terhadap kadar reliabilitas
-Proses pensekoran dapat dilakukan secara mudah karena kunci jawaban dapat dibuat secara pasti
-Proses penilaian dapat dilakukan secara objektif karena kunci jawaban sudah dapat ditentukan secara pasti.
-Faktor terka-menerka relatif lebih kecil
-Dapat dipakai untuk mengukur berbagai tujuan kurikuler
-Tidak mengandung jawaban yang dapat dimaknakan bermacam-macam.
-Siswa dapat memperoleh jawaban yang benar tanpa melakukan sesuai dengan yang diminta
-Bagaimanapun fleksibelnya bentuk ini masih sukar untuk dapat mengungkapkan kemampuan membuktikan, melukis, kreativitas kemampuan membaca, penemuan, pemecahan masalah.
-Lebih representatif mewakili isi dan banyaknya materi/bahan
-Lebih objektif dalam penilaian
-Lebih mudah dan cepat memeriksanya
-Waktu yang diperlukan untuk memeriksa jawaban siswa relatif singkat
-Pemeriksaan hasil tes dapat dibantu oleh orang lain
-Soal-soal lebih mungkin dapat dipakai ulang
2.3.4 Kelemahan Tes Objektif
- Terdapat kemungkinan untuk dapat menebak jawaban dengan tepat. Tidak dapat mengetahui jalan pikiran testi dalam menjawab suatu pesoalan.
-Membatasi kreativitas siswa dalam menyusun jawaban sendiri.
-Bahan ajar yang diungkap dengan tes objektif, pada umumnya lebih terbatas pada hal-hal yang factual.
-Dibutuhkan persiapan penyusunan tes yang relatif lebih sulit dibandingkan tes uraian
-Proses berpikir anak tidak bisa diukur
-Sifat kreatif siswa akan cenderung menumpul
-Beberapa aspek kemampuan tidak bisa atau sukar diungkapkan
-Banyak kesempatan untuk untung-untungan
-Kerjasama siswa dalam menjawab tes lebih terbuka
2.3.5Cara Penilaian Tes Obketif
Analisis tes hasil belajar bentuk objektif dapat diketahui dari dua kriteria atau dua parameter, yaitu indeks kesukaran dan indeks daya diskriminasi. Menurut Fernandes (1984) analisis tes meliputi tingkat kesukaran tes, daya beda, dan efektifitas pengecoh. Analisis juga untuk menguji efektifitas distraktor pada setiap butir soal untuk menentukan apakah setiap distraktor yang dibuat sudah berfungsi dengan baik. Hasil analisis ini akan menghasilkan suatu keputusan apakah butir soal itu nantinya dapat dipakai, diperbaiki atau dibuang.
Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mengetahui tingkat kesukaran, daya beda dan efektifitas distraktor pada soal bentuk objektif adalah dengan menggunakan analisis psikometrik klasik. Teori tes klasik mempunyai beberapa kelemahan, antara lain perhitungan tingkat kesukaran dan daya pembeda soal sangat bergantung pada sampel yang digunakan dalam analisis. Kondisi sampel sangat mempengaruhi hasil analisis, bila sampel yang digunakan memiliki rentang dan sebaran kemampuan yang tinggi maka hasil analisisnya akan berbeda dengan rentang dan sebaran kemampuan siswa yang rendah. Sebagai contoh daya pembeda soal akan tinggi bila tingkat kemampuan siswa sangat bervariasi atau mempunyai rentang kemampuan yang besar. Sebaliknya daya pembeda soal akan kecil bila tingkat kemampuan siswa mempunyai rentang kemampuan yang kecil. Oleh karena itu kondisi sampel sangat mempengaruhi perhitungan statistik yang dihasilkannya.
Guna mengatasi kelemahan dari teori tes klasik, maka langkah yang dapat ditempuh adalah berhati-hati dalam mengambil sampel. Dengan kata lain sampel yang digunakan harus benar-benar mewakili (representatif) dari populasi. Bila sampel yang digunakan tidak representatif maka akibatnya hasil analisis tidak bisa digeneralisasikan pada populasi.
2.3.6 Tingkat Kesukaran
Untuk menghitung tingkat kesukaran (p) cara yang paling mudah dan paling umum digunakan untuk menentukan tingkat kesukaran adalah jumlah peserta tes yang menjawab benar pada soal yang dianalisis dibandingkan dengan peserta tes seluruhannya.
2.3.7Petunjuk Penyusunan
Tes merupakan prosedur sistematis. Dalam Tes uraian Butir-butir tes disusun menurut cara dan aturan tertentu, prosedur administrasi dan pemberian angka (scoring) harus jelas dan spesifik, dan setiap orang yang mengambil tes harus mendapat butir-butir yang sama dan dalam kondisi yang sebanding. Kedua, tes berisi sampel perilaku. Populasi butir tes yang bisa dibuat dari suatu materi tidak terhingga jumlahnya. Keseluruhan butir itu mustahil dapat seluruhnya tercakup dalam tes. Kelayakan tes lebih tergantung kepada sejauh mana butir-butir di dalam tes mewakili secara representatif kawasan (domain) perilaku yang diukur. Ketiga, tes mengukur perilaku. Butir-butir tes menghendaki subjek agar menunjukkan apa yang diketahui atau apa yang dipelajari subjek dengan cara menjawab butir-butir atau mengerjakan tugas yang dikehendaki oleh tes. Respon subjek atas tes merupakan perilaku yang ingin diketahui dari penyelenggaraan tes.
2.3.8Soal objektif
Soal objektif adalah soal yang memiliki satu jawaban pasti. Objektif di sini berarti hasil penilaian terhadap suatu lembar jawaban akan sama walau diperiksa oleh orang yang berbeda asal memiliki latar belakang pendidikan sesuai dengan mata ujian.
Contoh:
Perhatikan dialog berikut!
Pak Jamari : “Apakah kamu tahu gambar ini ?”
Hasan : “Tahu, Pak ! Itu gambar badak?”
Pak Jamari : “Dan, gambar ini tentu kamu sudah mengenalnya.”
Hasan : “Gambar komodo, Pak!”
Anto : “Berasal dari manakah komodo itu, Pak ?”
Pak Jamari : “Komodo berasal dari Nusa Tenggara Timur. Oleh karena itu,....
Percakapan di atas dapat dilengkapi dengan pernyataan ....
a. pulau itu disebut juga hewan komodo
b. pulau itu disebut juga asal komodo
c. pulau itu dinamai juga pulau komodo
d. pulau itu disebut juga pulau komodo
Kunci : D
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
·Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, evaluasi diartikan sebagai penilainan. Sedangkan evaluasi menurut Benyamin S. Bloom adalah pengumpulan bukti-bukti yang cukup untuk kemudian dijadikan dasar penetapan ada tidaknya perubahan dan derajat perubahan yang terjadi pada diri siswa atau anak didik.Apa yang dimaksud dengan tes uraian dan bagaimana contoh soal uraian.
·Cara penilaian pada tes uraian adalah:
- Memeriksa tes bentuk essai lebih sulit dibandingkan dengan bentuk tes objektif. Siapapun yang menilai lembar jawaban tes objektif hasilnya pasti sama. Sedangkan memeriksa tes essay hasilnya bisa berbeda kalau yang memeriksa orangnya berbeda, sekalipun kriteria jawaban yang tepat sudah ditetapkan. Itu sebabnya bentuk tes ini disebut dengan tes subjektif.
- Untuk menghindari faktor subjektifitas maka sebaiknya sebelum memeriksa lembar jawaban dipersiapkan dulu kriteria jawaban yang benar. Ada dua cara yang bisa dilakukan dalam memeriksa lembar jawaban tes objektif.
- Lembar jawaban diperiksa perorang. Maksudnya setelah selesai memeriksa punya si A dan diberi skor lalu memeriksa punya si B, lalu si C dan seterusnya.
- Lembar jawaban diperiksa nomor demi nomor. Misalnya satu lokal terdiri dari 30 orang, maka pemeriksaan lembar jawaban dilakukan mulai nomor satu pada seluruh lembar jawaban essay. Setelah selesai dilanjutkan dengan nomor dua untuk seluruh lembar jawaban mahasiswa demikian seterusnya.
·Soal objektif adalah soal yang memiliki satu jawaban pasti. Objektif di sini berarti hasil penilaian terhadap suatu lembar jawaban akan sama walau diperiksa oleh orang yang berbeda asal memiliki latar belakang pendidikan sesuai dengan mata ujian.
Contoh:
Perhatikan dialog berikut!
Pak Jamari : “Apakah kamu tahu gambar ini ?”
Hasan : “Tahu, Pak ! Itu gambar badak?”
Pak Jamari : “Dan, gambar ini tentu kamu sudah mengenalnya.”
Hasan : “Gambar komodo, Pak!”
Anto : “Berasal dari manakah komodo itu, Pak ?”
Pak Jamari : “Komodo berasal dari Nusa Tenggara Timur. Oleh karena itu,....
Percakapan di atas dapat dilengkapi dengan pernyataan ....
a. pulau itu disebut juga hewan komodo
b. pulau itu disebut juga asal komodo
c. pulau itu dinamai juga pulau komodo
d. pulau itu disebut juga pulau komodo
KUNCI: D
·A. Kelebihan Tes Uraian
-Tes uraian dapat dengan baik mengukur hasil belajar yang kompleks.
-Tes bentuk uraian terutama menekankan kepada pengukuran kemampuan dan kemampuan menguraikan berbagai hasil pemikiran dan sumber informasi kedalam suatu pola berpikir tertentu, yang disertai dengan keterampilan pemecahan masalah.
-Bentuk tes uraian lebih meningkatkan motivasi peserta didik untuk melahirkan kepribadiannya dan watak sendiri.
-Memudahkan guru untuk menyusun butir soal.
-Tes uraian sangat menekankan kemampuan menulis.
-Tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk menebak jawaban.
-Dapat mengetahui sejauh mana penguasaan siswa terhadap suatu materi
B. Kekurangan Tes Uraian
1. Menurut Robert L. Ebel A. Frisbie (1986 : 129) terdapat tiga hal yang menyebabkan tes uraian realibilitasnya rendah yaitu pertama keterbatasan sampel bahan yang tercakup dalam soal tes. Kedua, batas-batas tugas yang harus dikerjakan oleh peserta tes sangat longgar, walaupun telah diusahakan untuk menentukan batasan-batasan yang cukup ketat. Ketiga, subjektifitas penskoran yang dilakukan oleh pemeriksa tes.
2. Untuk menyelesaikan tes uraian guru dan siswa membutuhkan waktu yang banyak.
3. Jawaban peserta tes kadang-kadang disertai bualan-bualan.
4. Kemampuan menyatakan pikiran secara tertulis menjadi hal yang paling membedakan prestasi belajar siswa.
5. Memeriksa hasil tes relatif sulit dan memerlukan waktu yang lebih lama.
6. Dalam penilaian mudah dipengaruhi unsur subjektivitas dari penilai.
7. Kurang representatif dalam mewakili materi pelajaran, karena hanya terdiri dari beberapa butir soal.
8. Pemeriksanya hanya dapat dilakukan oleh ahlinya.
9.Ruang lingkup yang diungkap sangat terbatas.
10.Memungkinkan timbulnya keragaman dalam memberikan jawaban sehingga tidak ada rumusan benar yang pasti. Lebih memberikan peluang untuk bersifat subjektif.
11.Penggunaan soal esai membutuhkan waktu koreksi yang lama dalam menentukan nilai.