Rabu, 13 Oktober 2010

BENTUK-BENTUK SOAL PADA EVALUASI PEMBELAJARAN


BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang Penulisan
Secara umum bentuk soal terbagi ke dalam dua bagian, yakni soal essai dan soal objektif. Soal essai adalah pertanyaan yang menuntut siswa menjawab dalam bentuk menguraikan, menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan, memberikan alasan, dan bentuk lain yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri. Maka dalam test dituntut kemampuan siswa untuk menggeneralisasikan gagasannya memalului bahasan tulisan.
Soal  objektif ini lebih baru dari soal essay, tetapi bentuk test ini banyak digunakan dalam menilai hasil belajar disekolah-sekolah. Hal ini disebabkan antara lain karena luasnya bahan pelajaran yang dapat dicapai dalam test dan mudahnya menilai jawaban test. Test ini dikategori selalu menghasilkan nilai yang sama meskipun yang menilai guru yang berbeda atau guru yang sama pada waktu yang berbeda. Test objektif lebih dikategori pada speed tests.

1.2              Rumusan dan Batasan Masalah
·         Apa yang dimaksud dengan evaluasi ?
·         Apa yang dimaksud dengan tes uraian dan bagaimana contoh soal uraian ?
·         Bagaimana cara penilaian pada tes uraian?
·         Apa yang dimaksud dengan soal objektif dan bagaiman contoh soal objektif ?
·         Apa kelebihan dan kekurangan tes uraian?

1.3              Tujuan Penulisan
Dalam penulisan sebuah makalah pada intinya ada tujuan yang harus dicapai, baik itu tujuan umum maupun tujuan khusus. Seperti tujuan penulisan makalah ini pada umumnya untuk memenuhi kewajiban salah satu tugas mata kuliah Evaluasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Sedangkan tujuan khususnya adalah untuk membahas dan mempelajari lebih dalam mengenai topik yang ada dalam matakuliah ini khusunya mengenai bentuk-bentuk soal, yakni soal objektif dan soal essai. Tujuan yang ingin dicapai dari proses pembuatan makalah ini adalah agar kami mengetahui teknik dalam pembuatan bentuk soal yang akan diujikan kepada anak didik kami kelak setelah kami mengajar dikemudian hari agar proses belajar mengajar yang dilaksanakn dapat berjalan dengan baik sesuai dengan apa yang diharapkan.

1.4       Manfaat Penulisan
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat dalam pemahaman dan pendalaman mengenai konsep macam-macam bentuk soal. Penyusun berharap makalah ini tidak hanya bermanfaat bagi kami khususnya melainkan bagi pembaca umumnya, karena untuk memahami apa itu macam-macam bentuk soal secara global, pembaca dapat membaca dari berbagai literatur. Selain itu, pembaca perlu sebuah bahan yang berupa suatu ringkasan, seperti halnya sebuah makalah ini. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami selaku penulis, umumnya bagi siapa saja yang berkenan untuk membacanya.










BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Evaluasi
            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, evaluasi diartikan sebagai penilainan. Sedangkan evaluasi menurut Benyamin S. Bloom adalah pengumpulan bukti-bukti yang cukup untuk kemudian dijadikan dasar penetapan ada tidaknya perubahan dan derajat perubahan yang terjadi pada diri siswa atau anak didik. Bukti-bukti yang dikumpulkan dapat bersifat kuantitatif (dalam bentuk angka-angka), dan dapat pula bersifat kualitatif, yaitu menunjukkan kualifikasi seperti: baik sekali, baik, sedang atau cukup, rajin, cermat dan lain-lainnya. Bukti-bukti kuantitatif atau kualitatif yang dikumpulkan harus memenuhi persyaratan tertentu agar dapat dijadikan dasar pengambilan keputusah ada tidaknya perubahan perilaku serta derajat perubahan yang ada secara adil dan objektif.

2.2  Tes Uraian/Esai
2.2.1 Pengertian Tes Uraian
Tes uraian adalah bentuk tes yang mengandung pertanyaan yang jawabannya tidak disediakan oleh pembuat soal. Tes esai adalah suatu bentuk tes yang terdiri dari pertanyaan atau suruhan yang menghendaki jawaban yang berupa uraian-uraian yang relatif panjang Nurkancana dan Sumartana (1986: 42). Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam sebuah tes uraian, siswa dituntut untuk dapat mengekspresikan apa yang ada di dalam pikirannya dengan menggunakan kata-kata sendiri. Oleh karena itu, dalam tes uraian sangat mungkin terdapat variasi yang berbeda dalam jawaban yang diberikan oleh siswa, karena jawaban yang diberikan bersifat subjektif. Tes uraian biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif yang relative tinggi dan kompleks.
Soal-soal tes uraian pada umumnya mengandung permasalahan dan menuntut penguraian sebagai jawaban, sehingga apabila direncanakan dengan baik, soal berbentuk uraian sangat tepat digunakan untuk menilai cara berpikir siswa dalam memecahkan sebuah masalah dan cara siswa untuk mengungkapkannya dalam bentuk tulisan. Terdapat tiga faktor yang harus dilihat untuk dapat menentukan apakah butiran soal tertentu itu baik atau tidak. Pertama, tingkat kesukaran. Kesukaran butiran soal ditentukan oleh perbandingan antara banyaknya siswa yang menjawab soal itu benar dan banyaknya siswa yang menjawab butiran soal itu. Kedua, indeks diskriminasi atau daya pembeda adalah korelasi antara skor jawaban terhadap sebuah butiran soal dengan skor jawaban seluruh soal. Ketiga, melihat bagaimana pilihan jawaban lain dipilih oleh kelompok-kelompok itu dibandingkan dengan pilihannya terhadap pilihan yang benar.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan tes soal uraian. Tes uraian dapat digunakan apabila:
1. Jumlah siswa atau peserta tes terbatas.
2. Waktu yang dipunyai guru untuk mempersiapkan soal sangat terbatas.
3. Tujuan instruksional yang ingin dicapai adalah kemampuan mengekspresikan pikiran dalam bentuk tertulis, menguji kemampuan dengan baik, atau penggunaan kemampuan penggunaan bahasa secara tertib.
4. Guru ingin memperoleh informasi yang tidak tertulis secara langsung di dalam soal ujian tetapi dapat disimpulkan sari tulisan peserta tes, seperti : sikap, nilai, atau pendapat. Soal uraian dapat digunakan untuk memperoleh informasi langsung tersebut, tetapi harus digunakan dengan sangat hati-hati oleh guru.
5. Guru ingin memperoleh hasil pengalaman belajar siswanya.
Soal uraian (essai) berbeda dengan soal objektif dalam kebenarannya yang bertingkat. Jawaban tidak dinilai mulai dari 100% benar dan 100% salah. Kebenaran bertingkat tergantung tingkat kesesuaian jawaban siswa dengan jawaban yang dikehendaki yang dituangkan dalam kunci. Jawaban mungkin mengarah kepada jawaban yang tidak tunggal (divergence). Kebenaran yang dicapai bisa 0%, 20%, 30%, 50%, 70%, atau 100% tergantung ketepatan jawabannya.

2.2.2        Jenis Tes Uraian
Tes uraian dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu, tes uraian bentuk terbuka (extended response) dan tes uraian terbatas (restricted response). Pembagian jenis tes ini berdasarkan pada kebebasan yang diberikan pembuat soal kepada penjawab soal atau siswa untuk menuangkan hasil gagasan atau pemikirannya. Pada tes uraian terbuka setiap peserta tes sepenuhnya memiliki kebebasan untuk menjawab sesuai dengan yang dipikirkannya. Sedangkan tes uraian terbatas jawaban yang dikehendaki adalah jawaban yang sifatnya sudah dibatasi.

2.2.3        Kelebihan Tes Uraian
1.      Tes uraian dapat dengan baik mengukur hasil belajar yang kompleks.
2.      Tes bentuk uraian terutama menekankan kepada pengukuran kemampuan dan kemampuan menguraikan berbagai hasil pemikiran dan sumber informasi kedalam suatu pola berpikir tertentu, yang disertai dengan keterampilan pemecahan masalah.
3.      Bentuk tes uraian lebih meningkatkan motivasi peserta didik untuk melahirkan kepribadiannya dan watak sendiri.
4.      Memudahkan guru untuk menyusun butir soal.
5.      Tes uraian sangat menekankan kemampuan menulis.
6.      Tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk menebak jawaban.
7.      Dapat mengetahui sejauh mana penguasaan siswa terhadap suatu materi

2.2.4        Kelemahan tes uraian
1. Reliabilitasnya rendah artinya skor yang dicapai oleh peserta tes tidak konsisten bila tes yang sama atau tes yang parallel yang diuji ulang beberapa kali. Menurut Robert L. Ebel A. Frisbie (1986 : 129) terdapat tiga hal yang menyebabkan tes uraian realibilitasnya rendah yaitu pertama keterbatasan sampel bahan yang tercakup dalam soal tes. Kedua, batas-bayastugas yang harus dikerjakan oleh peserta tes sangat longgar, walaupun telah diusahakan untuk menentukan batasan-batasan yang cukup ketat. Ketiga, subjektifitas penskoran yang dilakukan oleh pemeriksa tes.
2. Untuk menyelesaikan tes uraian guru dan siswa membutuhkan waktu yang banyak.
3. Jawaban peserta tes kadang-kadang disertai bualan-bualan.
4. Kemampuan menyatakan pikiran secara tertulis menjadi hal yang paling membedakan prestasi belajar siswa.
5. Memeriksa hasil tes relatif sulit dan memerlukan waktu yang lebih lama.
6. Dalam penilaian mudah dipengaruhi unsur subjektivitas dari penilai.
7. Kurang representatif dalam mewakili materi pelajaran, karena hanya terdiri dari beberapa butir soal.
8. Pemeriksanya hanya dapat dilakukan oleh ahlinya.
9.Ruang lingkup yang diungkap sangat terbatas.
10.Memungkinkan timbulnya keragaman dalam memberikan jawaban sehingga tidak ada rumusan benar yang pasti. Lebih memberikan peluang untuk bersifat subjektif.
11.Penggunaan soal esai membutuhkan waktu koreksi yang lama dalam menentukan nilai.

2.2.5        Cara penilaian tes uraian
2.2.5.1  Cara Memeriksa Tes Uraian
- Memeriksa tes bentuk essai lebih sulit dibandingkan dengan bentuk tes objektif. Siapapun yang menilai lembar jawaban tes objektif hasilnya pasti sama. Sedangkan memeriksa tes essay hasilnya bisa berbeda kalau yang memeriksa orangnya berbeda, sekalipun kriteria jawaban yang tepat sudah ditetapkan. Itu sebabnya bentuk tes ini disebut dengan tes subjektif.
- Untuk menghindari faktor subjektifitas maka sebaiknya sebelum memeriksa lembar jawaban dipersiapkan dulu kriteria jawaban yang benar. Ada dua cara yang bisa dilakukan dalam memeriksa lembar jawaban tes objektif.
- Lembar jawaban diperiksa perorang. Maksudnya setelah selesai memeriksa punya si A dan diberi skor lalu memeriksa punya si B, lalu si C dan seterusnya.
- Lembar jawaban diperiksa nomor demi nomor. Misalnya satu lokal terdiri dari 30 orang, maka pemeriksaan lembar jawaban dilakukan mulai nomor satu pada seluruh lembar jawaban essay. Setelah selesai dilanjutkan dengan nomor dua untuk seluruh lembar jawaban mahasiswa demikian seterusnya.
Bila dibandingkan cara pertama dengan cara kedua maka cara kedua lebih objektif. Sedangkan cara pertama lebih subjektif. Oleh karena itu sebaiknya untuk memperoleh hasil yang lebih objektif gunakan cara kedua.

2.2.5.2 Pemberian Skoring pada tes Essai
Pemberian skoring dapat dipilih dari beberapa skala pengukuran, misalnya skala 1-4, 1-10 dan 1-100. Sebaiknya jangan memberikan skor nol. Mulailah skoring dari angka 1. Semakin tinggi skala pengukuran yang digunakan maka hasilnya semakin halus dan akurat. Pemberian skor ini berlaku sama untuk semua nomor soal.
Setelah menetapkan skoring langkah selanjutnya adalah menetapkan pembobotan sesuai dengan tingkat kesukaran soal. Sebaiknya gunakan skala 1-10. misalnya soal yang mudah diberi bobot 2, sedang bobotnya 3 dan soal yang sulit bobotnya 5.
Ada juga yang melakukan penilaian lembar jawaban tidak mengikuti cara di atas, dimana setiap soal langsung diberi bobot nilai tanpa mempertimbangkan skala pengukuran. Sehingga skala pengukuran tiap item tidak sama.
Proses penetapan skornya adalah sebagai berikut:
1. skor setiap Item diperoleh dengan cara nilai setiap item dikali Bobot.
2. Jumlahkan total nilai (skor kerja) setiap item lalu dibagi dengan skor ideal.
Untuk lebih jelasnya berikut akan diberikan contoh perhitungan.
Nilai rata-rata sebelum diberi bobot adalah 35/6 = 5,833
Nilai rata-rata setelah diberi bobot adalah 104/35 = 2,971
Pemberian bobot dalam pengolahan lembar jawaban soal essay sangat penting, karena skor diberikan benar-benar atas dasar kemampuan. Kenyataan juga menunjukkan bahwa setiap item tes tingkat kesukarannya berbeda.




2.2.6        Soal Uraian
Soal uraian adalah butiran soal yang mengandung pertanyaan atau tugas yang jawaban atau pengerjaan soal tersebut harus dilakukan dengan cara mengekspresikan pikiran peserta tes secara naratif. Ciri khas soal uraian ialah jawaban terhadap soal tersebut tidak disediakan oleh orang yang mengkontruksi butir soal, tetapi dipasok oleh peserta tes. Peserta tes bebas untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Setiap peserta tes dapat memilih, menghubungkan, dan atau menyampaikan gagasan dengan menggunakan kata-katanya sendiri.
Contoh:
·         Jelaskan 2 perbedaan antara pasar tradisional dan pasar modern!
Jawaban:
pasar tradisional: harga dapat ditawar dan tidak kena pajak
pasar modern: harga pasti dan kena pajak.
·         Tuliskan dan jelaskan 6 macam hak asasi manusia yang mendapat perlindungan dan pelayanan dalam UUD 1945!

2.3      Tes Objektif
2.3.1 Pengertian Tes Objektif
Tes objektif adalah jenis tes yang didalamnya sudah disediakan alternatif atau kemungkinan jawaban yang dapat dipilih oleh siswa. Oleh karena sifatnya yang demikian Popham (1981 : 235) menyebutnya dengan istilah tes pilihan jawaban (selected response test).

2.3.2        Jenis tes objektif
Bentuk tes objektif secara umum memiliki 3 tipe yaitu:
2.3.2.1  Benar-salah (true false)
Tes benar salah adalah bentuk tes yang mengajukan beberapa pernyataan yang bernilai benar atau salah. Biasanya ada dua pilihan jawaban yaitu huruf B yang berarti pernyataan tersebut benar dan S yang berarti pernyataan tersebut salah. Tugas peserta tes adalah menentukan apakah pernyataan tersebut benar atau salah.

Contoh:
“Uap panas termasuk zat cair. (Benar/Salah)”

Butir soal benar-salah memiliki kekuatan antara lain :
1. Mudah dikontruksi.
2. Perangkat soal dapat mewakili seluruh pokok bahasan.
3. Mudah diskor.
4. Alat yang baik untuk mengukur fakta dan hasil belajar langsung terutama berkenaan dengan ingatan.

Adapun kelemahan butir soal tipe benar-salah adalah :
1. Mendorong peserta tes untuk menebak jawaban.
2. Terlalu menekankan kepada ingatan.
3. Peserta tes harus selalu memberikan penilaian absolut.

Beberapa petunjuk yang merupakan persyaratan dalam penulisan butir soal benar salah yaitu :
1. Setiap butir soal harus menguji atau mengukur hasil belajar peserta tes yang penting dan bermakna, tidak menanyakan hal yang remeh (trivial). Misalnya:
Lemah : Haji Samanhudi seorang pedagang batik dari solo
Lebih baik : Haji Samanhudi adalah pendiri Syarekat Dagang Islam.
2. Setiap soal haruslah menguji pemahaman, tidak hanya pengukuran terhadap daya ingat. Butir soal tidaklah dianjurkan untuk menguji kemampuan mengingat kata atau frase yang terdapat dalam buku ajar atau bacaan lainya. Misalnya:
Lemah : B-S : Bila penawaran banyak sedangkan permintaan sedikit maka harga akan turun.
Lebih baik : B-S : Pak udi membeli pakaian sangat murah karena di pasar barang itu tersedia banyak sedangkan yang membeli sangat jarang.
3. Kunci jawaban yang ditentukan haruslah benar.
4. Butir soal yang baik haruslah jelas bagi seseorang peserta tes yang belajar dan jawaban yang salah kelihatan seakan-akan benar bagi peserta tes yang tidak belajar dengan baik.
5. Pernyataan dalam butir soal harus dinyatakan secara jelas dan menggunakan bahasa yang baik dan benar.
Butir soal benar-salah dapat dimodifikasi sehingga dapat meningkatkan daya bedanya dan mengurangi kelemahan utamanya yaitu mendorong penerkaan.

2.3.2.2  Mejodohkan (matching)
Tes menjodohkan ini memiliki satu seri pertanyaan dan satu seri jawaban. Tugas peserta tes adalah mencari pasangan setiap pertanyaan yang terdapat dalam seri pertanyaan dan seri jawaban. Contoh bentuk tes menjodohkan adalah :

Contoh:
“Pasangkanlah pertanyaan yang ada pada lajur kiri dengan yang ada pada lajur kanan dengan menempatkan huruf yang terdapat dimuka pernyataan lajur kiri pada titik-titik yang disediakan di lajur kanan.”
Cocokanlah kota di bawah ini dengan propinsi kota itu berada :
a.       Bandung . . . . . . . . …            1. Jawa Tengah
b.      Medan . . . . . . . . . . . . .           2. Jawa Barat
c.       Surabaya . . . . . . . . . . . .         3. Jawa Timur
d.      Semarang. . . . . . . . . . .           4. Sumatera Utara
Keunggulan tes memasangkan
-          Waktunya relatif singkat
-          Banyak pertanyaan dapat diajukan sehingga dapat mengukur ruang lingkup bahasan yang lebih luas
-          Faktor terka-menerka kecil
-          Penilaiannya mudah dan objektif.
Kelemahan Tes memasangkan/ menjodohkan
-          Sukar untuk menentukan materi/pokok bahasan yang mengukur hal-hal yang berhubungan
-          Hanya dapat mengukur hal-hal yang didasarkan pada fakta dan hafalan saja.

2.3.2.3  Pilihan ganda (multiple choice)
Tes bentuk pilihan ganda merupakan tes yang memiliki satu pemberitahuan tentang suatu materi tertentu yang belum sempurna serta beberapa alternatif jawaban yang terdiri dari kunci jawaban dan pengecoh. Tugas peserta tes adalah memilih jawaban dari pilihan yang tersedia dan paling sesuai dengan pernyataan yang ada dalam soal.

Dilihat dari strukturnya bentuk soal pilihan banyak terdiri atas:
-          Stem :suatu pertanyaan / pernyataan yang berisi permasalahan yang akan ditanyakan
-          Option :sejumlah pilian/alternatif jawaban
-          Kunci :jawaban yang benar/paling tepat
-          Distractor/pengecoh :jawaban-jawaban lain, selain kunci (Sudjana, 2004:267)

Contoh:
1. Pemilihan Presiden di Indonesia dilaksanakan setiap berapa tahun?
a. 3 tahun                            b. 4 tahun
c. 5 tahun                            d. 6 tahun
2. Indonesia beribu kota di?
a. Bandung                         b. Yogyakarta
c. Jakarta                             d. Bukitinggi

3. bunti /e/ pada kata enak sama dengan bunyi /e/ pada kata…
a. beras                              b. bebas
c. bela                                d. bekas

2.3.3        Kelebihan  Tes Objektif
-          Waktu yang dibutuhkan relative lebih singkat
-          Panjang pendeknya suatu tes (banyak sedikitnya butir soal) bisa berpengaruh terhadap kadar reliabilitas
-          Proses pensekoran dapat dilakukan secara mudah karena kunci jawaban dapat dibuat secara pasti
-          Proses penilaian dapat dilakukan secara objektif karena kunci jawaban sudah dapat ditentukan secara pasti.
-          Faktor terka-menerka relatif lebih kecil
-          Dapat dipakai untuk mengukur berbagai tujuan kurikuler
-          Tidak mengandung jawaban yang dapat dimaknakan bermacam-macam.
-          Siswa dapat memperoleh jawaban yang benar tanpa melakukan sesuai dengan yang diminta
-          Bagaimanapun fleksibelnya bentuk ini masih sukar untuk dapat mengungkapkan kemampuan membuktikan, melukis, kreativitas kemampuan membaca, penemuan, pemecahan masalah.
-          Lebih representatif mewakili isi dan banyaknya materi/bahan
-          Lebih objektif dalam penilaian
-          Lebih mudah dan cepat memeriksanya
-          Waktu yang diperlukan untuk memeriksa jawaban siswa relatif singkat
-          Pemeriksaan hasil tes dapat dibantu oleh orang lain
-          Soal-soal lebih mungkin dapat dipakai ulang

2.3.4     Kelemahan Tes Objektif
-           Terdapat kemungkinan untuk dapat menebak jawaban dengan tepat. Tidak dapat mengetahui jalan pikiran testi dalam menjawab suatu pesoalan.
-          Membatasi kreativitas siswa dalam menyusun jawaban sendiri.
-          Bahan ajar yang diungkap dengan tes objektif, pada umumnya lebih terbatas pada hal-hal yang factual.
-          Dibutuhkan persiapan penyusunan tes yang relatif lebih sulit dibandingkan tes uraian
-          Proses berpikir anak tidak bisa diukur
-          Sifat kreatif siswa akan cenderung menumpul
-          Beberapa aspek kemampuan tidak bisa atau sukar diungkapkan
-          Banyak kesempatan untuk untung-untungan
-          Kerjasama siswa dalam menjawab tes lebih terbuka

2.3.5        Cara Penilaian Tes Obketif
Analisis tes hasil belajar bentuk objektif dapat diketahui dari dua kriteria atau dua parameter, yaitu indeks kesukaran dan indeks daya diskriminasi. Menurut Fernandes (1984) analisis tes meliputi tingkat kesukaran tes, daya beda, dan efektifitas pengecoh. Analisis juga untuk menguji efektifitas distraktor pada setiap butir soal untuk menentukan apakah setiap distraktor yang dibuat sudah berfungsi dengan baik. Hasil analisis ini akan menghasilkan suatu keputusan apakah butir soal itu nantinya dapat dipakai, diperbaiki atau dibuang.
Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mengetahui tingkat kesukaran, daya beda dan efektifitas distraktor pada soal bentuk objektif adalah dengan menggunakan analisis psikometrik klasik. Teori tes klasik mempunyai beberapa kelemahan, antara lain perhitungan tingkat kesukaran dan daya pembeda soal sangat bergantung pada sampel yang digunakan dalam analisis. Kondisi sampel sangat mempengaruhi hasil analisis, bila sampel yang digunakan memiliki rentang dan sebaran kemampuan yang tinggi maka hasil analisisnya akan berbeda dengan rentang dan sebaran kemampuan siswa yang rendah. Sebagai contoh daya pembeda soal akan tinggi bila tingkat kemampuan siswa sangat bervariasi atau mempunyai rentang kemampuan yang besar. Sebaliknya daya pembeda soal akan kecil bila tingkat kemampuan siswa mempunyai rentang kemampuan yang kecil. Oleh karena itu kondisi sampel sangat mempengaruhi perhitungan statistik yang dihasilkannya.
Guna mengatasi kelemahan dari teori tes klasik, maka langkah yang dapat ditempuh adalah berhati-hati dalam mengambil sampel. Dengan kata lain sampel yang digunakan harus benar-benar mewakili (representatif) dari populasi. Bila sampel yang digunakan tidak representatif maka akibatnya hasil analisis tidak bisa digeneralisasikan pada populasi.

2.3.6   Tingkat Kesukaran
Untuk menghitung tingkat kesukaran (p) cara yang paling mudah dan paling umum digunakan untuk menentukan tingkat kesukaran adalah jumlah peserta tes yang menjawab benar pada soal yang dianalisis dibandingkan dengan peserta tes seluruhannya.

2.3.7        Petunjuk Penyusunan
Tes merupakan prosedur sistematis. Dalam Tes uraian Butir-butir tes disusun menurut cara dan aturan tertentu, prosedur administrasi dan pemberian angka (scoring) harus jelas dan spesifik, dan setiap orang yang mengambil tes harus mendapat butir-butir yang sama dan dalam kondisi yang sebanding. Kedua, tes berisi sampel perilaku. Populasi butir tes yang bisa dibuat dari suatu materi tidak terhingga jumlahnya. Keseluruhan butir itu mustahil dapat seluruhnya tercakup dalam tes. Kelayakan tes lebih tergantung kepada sejauh mana butir-butir di dalam tes mewakili secara representatif kawasan (domain) perilaku yang diukur. Ketiga, tes mengukur perilaku. Butir-butir tes menghendaki subjek agar menunjukkan apa yang diketahui atau apa yang dipelajari subjek dengan cara menjawab butir-butir atau mengerjakan tugas yang dikehendaki oleh tes. Respon subjek atas tes merupakan perilaku yang ingin diketahui dari penyelenggaraan tes.



2.3.8        Soal objektif
Soal objektif adalah soal yang memiliki satu jawaban pasti. Objektif di sini berarti hasil penilaian terhadap suatu lembar jawaban akan sama walau diperiksa oleh orang yang berbeda asal memiliki latar belakang pendidikan sesuai dengan mata ujian.

Contoh:
Perhatikan dialog berikut!
Pak Jamari : “Apakah kamu tahu gambar ini ?”
Hasan : “Tahu, Pak ! Itu gambar badak?”
Pak Jamari : “Dan, gambar ini tentu kamu sudah mengenalnya.”
Hasan : “Gambar komodo, Pak!”
Anto : “Berasal dari manakah komodo itu, Pak ?”
Pak Jamari : “Komodo berasal dari Nusa Tenggara Timur. Oleh karena itu,....

Percakapan di atas dapat dilengkapi dengan pernyataan ....
a. pulau itu disebut juga hewan komodo
b. pulau itu disebut juga asal komodo
c. pulau itu dinamai juga pulau komodo
d. pulau itu disebut juga pulau komodo
     
      Kunci : D













BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
·         Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, evaluasi diartikan sebagai penilainan. Sedangkan evaluasi menurut Benyamin S. Bloom adalah pengumpulan bukti-bukti yang cukup untuk kemudian dijadikan dasar penetapan ada tidaknya perubahan dan derajat perubahan yang terjadi pada diri siswa atau anak didik.Apa yang dimaksud dengan tes uraian dan bagaimana contoh soal uraian.
·         Cara penilaian pada tes uraian adalah:
- Memeriksa tes bentuk essai lebih sulit dibandingkan dengan bentuk tes objektif. Siapapun yang menilai lembar jawaban tes objektif hasilnya pasti sama. Sedangkan memeriksa tes essay hasilnya bisa berbeda kalau yang memeriksa orangnya berbeda, sekalipun kriteria jawaban yang tepat sudah ditetapkan. Itu sebabnya bentuk tes ini disebut dengan tes subjektif.
- Untuk menghindari faktor subjektifitas maka sebaiknya sebelum memeriksa lembar jawaban dipersiapkan dulu kriteria jawaban yang benar. Ada dua cara yang bisa dilakukan dalam memeriksa lembar jawaban tes objektif.
- Lembar jawaban diperiksa perorang. Maksudnya setelah selesai memeriksa punya si A dan diberi skor lalu memeriksa punya si B, lalu si C dan seterusnya.
- Lembar jawaban diperiksa nomor demi nomor. Misalnya satu lokal terdiri dari 30 orang, maka pemeriksaan lembar jawaban dilakukan mulai nomor satu pada seluruh lembar jawaban essay. Setelah selesai dilanjutkan dengan nomor dua untuk seluruh lembar jawaban mahasiswa demikian seterusnya.

·         Soal objektif adalah soal yang memiliki satu jawaban pasti. Objektif di sini berarti hasil penilaian terhadap suatu lembar jawaban akan sama walau diperiksa oleh orang yang berbeda asal memiliki latar belakang pendidikan sesuai dengan mata ujian.
Contoh:
Perhatikan dialog berikut!
Pak Jamari : “Apakah kamu tahu gambar ini ?”
Hasan : “Tahu, Pak ! Itu gambar badak?”
Pak Jamari : “Dan, gambar ini tentu kamu sudah mengenalnya.”
Hasan : “Gambar komodo, Pak!”
Anto : “Berasal dari manakah komodo itu, Pak ?”
Pak Jamari : “Komodo berasal dari Nusa Tenggara Timur. Oleh karena itu,....

Percakapan di atas dapat dilengkapi dengan pernyataan ....
a. pulau itu disebut juga hewan komodo
b. pulau itu disebut juga asal komodo
c. pulau itu dinamai juga pulau komodo
d. pulau itu disebut juga pulau komodo

KUNCI: D

·         A. Kelebihan Tes Uraian
-          Tes uraian dapat dengan baik mengukur hasil belajar yang kompleks.
-          Tes bentuk uraian terutama menekankan kepada pengukuran kemampuan dan kemampuan menguraikan berbagai hasil pemikiran dan sumber informasi kedalam suatu pola berpikir tertentu, yang disertai dengan keterampilan pemecahan masalah.
-          Bentuk tes uraian lebih meningkatkan motivasi peserta didik untuk melahirkan kepribadiannya dan watak sendiri.
-          Memudahkan guru untuk menyusun butir soal.
-          Tes uraian sangat menekankan kemampuan menulis.
-          Tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk menebak jawaban.
-         Dapat mengetahui sejauh mana penguasaan siswa terhadap suatu materi

B. Kekurangan Tes Uraian
1. Menurut Robert L. Ebel A. Frisbie (1986 : 129) terdapat tiga hal yang menyebabkan tes uraian realibilitasnya rendah yaitu pertama keterbatasan sampel bahan yang tercakup dalam soal tes. Kedua, batas-batas tugas yang harus dikerjakan oleh peserta tes sangat longgar, walaupun telah diusahakan untuk menentukan batasan-batasan yang cukup ketat. Ketiga, subjektifitas penskoran yang dilakukan oleh pemeriksa tes.
2. Untuk menyelesaikan tes uraian guru dan siswa membutuhkan waktu yang banyak.
3. Jawaban peserta tes kadang-kadang disertai bualan-bualan.
4. Kemampuan menyatakan pikiran secara tertulis menjadi hal yang paling membedakan prestasi belajar siswa.
5. Memeriksa hasil tes relatif sulit dan memerlukan waktu yang lebih lama.
6. Dalam penilaian mudah dipengaruhi unsur subjektivitas dari penilai.
7. Kurang representatif dalam mewakili materi pelajaran, karena hanya terdiri dari beberapa butir soal.
8. Pemeriksanya hanya dapat dilakukan oleh ahlinya.
9.Ruang lingkup yang diungkap sangat terbatas.
10.Memungkinkan timbulnya keragaman dalam memberikan jawaban sehingga tidak ada rumusan benar yang pasti. Lebih memberikan peluang untuk bersifat subjektif.
11.Penggunaan soal esai membutuhkan waktu koreksi yang lama dalam menentukan nilai.

Daftar pustaka

Djiwandono, M Soenardi.1996. Tes Bahasa dalam Pengajaran. Bandung: ITB
Wawan-junaidi.blogspot.com/penulisan
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2007. “Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga”. Balai Pustaka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar